JABAR EKSPRES – Sebanyak 10 ribu anak di wilayah Kabupaten Sumedang tercatat statusnya tidak sekolah. Angka tersebut merujuk pada data Dinas Pendidikan (Disdik) Sumedang periode 2026.
Diketahui, data sebelumnya, jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Sumedang lebih banyak lagi, yakni berada di angka 14 ribu anak.
Walaupun terbilang sudah mengalami penurunan dari 14 ribu ke 10 ribu, namun penanganan serius di sektor pendidikan perlu jadi perhatian serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang.
Baca Juga:Gandeng DTPH Jabar, Sespimma Polri Angkatan ke- 75 T.A. 2026 Pokjar 5, Gelar KKPKandang Ayam di Ciseeng Terbakar, 150 Ribu Ekor Mati hingga Rugi Rp15 Miliar
Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila mengatakan, berbagai faktor menjadi penyebab anak putus sekolah, mulai dari kondisi ekonomi hingga persoalan sosial di lingkungan.
“Dinas Pendidikan sudah melakukan pendataan terhadap anak-anak yang tidak bersekolah, termasuk yang terkendala faktor ekonomi,” katanya saat ditemui Jabar Ekspres di Sukasari, Kecamatan Sukasari belum lama ini.
Disampaikan Fajar, pihaknya juga melakukan langkah persuasif, dengan upaya memanggil orangtua agar anak dapat kembali melanjutkan pendidikan.
“Namun ada orang tua yang menilai anaknya lebih baik bekerja daripada sekolah. Kalau sudah seperti itu, kami tidak bisa melakukan pemaksaan,” bebernya.
Fajar mengungkapkan, terdapat pula kasus anak yang sudah difasilitasi masuk sekolah, namun kemudian diminta keluar oleh orang tuanya. Salah satunya, yakni terjadi pada siswa Sekolah Rakyat yang terpaksa berhenti di tengah jalan.
Lanjutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan rata-rata lama sekolah. Saat ini, rata-rata lama sekolah di Sumedang masih berada di angka 8,7 tahun, atau setara tidak sampai lulus SMP, sementara target ideal di atas 12 tahun.
“Ini menjadi tantangan, karena harapan lama sekolah kita di atas 12 tahun,” ungkapnya.
Baca Juga:Gubernur Ahmad Luthfi Peringati Hardiknas di SMKN 1 Kedawung Sragen, Inilah AlasannyaPolemik Penebangan Pohon Picu Aksi Warga Sentul City, WALHI Soroti Dugaan Pelanggaran
Fajar menerangkan, selain faktor ekonomi, alasan lain yang menyebabkan anak enggan bersekolah, yakni karena masih masifnya tindakan perundungan di lingkungan pendidikan.
Wabup Sumedang pun mencontohkan, adanya anak dari keluarga pemulung yang enggan sekolah karena kerap mendapat ejekan dari lingkungan.
“Ada yang tidak mau sekolah karena dibully. Ini juga harus jadi perhatian bersama,” terangnya.
Fajar menilai, penanganan anak tidak sekolah, tak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Pendidikan saja, tapi perlu dukungan sektor lain.
