UIKA Bogor Gandeng Kemenaker, Siapkan Lulusan Siap Hadapi Dunia Kerja Digital

Universitas Ibn Khaldun Bogor mengambil langkah strategis dengan menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan
Universitas Ibn Khaldun Bogor mengambil langkah strategis dengan menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk menyiapkan lulusan yang benar-benar siap kerja/Foto: UIKA/
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Universitas Ibn Khaldun Bogor mengambil langkah strategis dengan menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk menyiapkan lulusan yang benar-benar siap kerja.

Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan pada Senin (4/5/2026), bertepatan dengan kegiatan Studium Generale bersama Menteri Ketenagakerjaan RI di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq, UIKA Bogor.

MoU tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemenaker RI, Cris Kuntadi, bersama Rektor UIKA Bogor, E. Mujahidin, serta disaksikan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor (YPIKA), dan Ketua Senat UIKA Bogor.

Baca Juga:Gubernur Ahmad Luthfi dan Sungai Watch Bakal Kolaborasi Bersihkan Sampah Sungai di Jateng Jembatan Darurat Sungai Cigoha Kembali Ambruk, Warga Tanjungsari Terpaksa Putar Jauh

Kegiatan ini dihadiri sekitar 500 mahasiswa yang antusias mengikuti kuliah umum bertema “Transformasi Dunia Kerja di Era Digital: Dampak AI, Otomasi, dan Digitalisasi terhadap Lapangan Kerja.”

Dalam pemaparannya, Yassierli menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tengah mengalami perubahan besar yang tidak bisa dihindari.

“Dunia kerja sedang berubah drastis. Pekerjaan akan selalu ada, bahkan terus bertambah. Namun persoalannya, apakah talenta kita siap untuk mengisinya?” ujarnya.

Berdasarkan laporan global, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan akan hilang atau tergantikan pada 2030. Namun, di sisi lain akan muncul sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Saat ini, sekitar 86,9 persen angkatan kerja masih berpendidikan maksimal SMA/SMK dan lebih dari 55 persen bekerja di sektor informal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan tenaga kerja.

Di sisi lain, peluang kerja terus terbuka. Realisasi investasi nasional yang mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama 2026 mampu menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja.

Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh talenta yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Baca Juga:Long Weekend May Day 2026, Wisata Murah di Tasikmalaya Diserbu Warga Terowongan Tugu Pancakarsa Sentul Terendam Banjir, Drainase Tersumbat Sampah Jadi Pemicu

Yassierli menekankan bahwa tren rekrutmen kini mulai bergeser. Dunia industri tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi lebih mengutamakan keterampilan nyata.

“Ke depan, yang dilihat bukan sekadar gelar, tetapi apa yang bisa dilakukan. Skill akan menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun future-ready talent, yaitu generasi yang tidak hanya memiliki keterampilan digital, tetapi juga human skills seperti berpikir kritis, komunikasi, adaptasi, dan empati.

0 Komentar