JABAR EKSPRES – Penumpukan sampah – sampah elektronik di masyarakat ternyata menjadi bagian dampak negaif dari pesatnya perkembangan teknologi.
Namun meski demikian, warga Bandung tidak perlu khawatir. Ada komunitas yang siap menampung sampah elektronik tersebut, namanya Komunitas E-Waste Bandung.
Komunitas itu bermarkas di Jalan Cigadung Raya Timur, Cibeunying Kaler, Kota Bandung.
Baca Juga:Angel: Kami Semua Punya Mimpi, Sinopsis, Pemeran dan Tanggal Tayangnya di BioskopRibuan Knalpot Brong Dihancurkan Polresta Bogor, Kapolresta: Penggunanya Bisa Dipidana!
Dimas, Anggota Komunitas itu menceritakan, aksi peduli terhadap pengumpulan sampah elektronik itu bermula tiga tahun silam.
Kegiatan itu bermula dari keseharian para founder yang memiliki usaha jasa service laptop.
“Sekitar 2019, kami itu memulai dari service laptop,” katanya kepada Jabar Ekspres.
Dalam perjalanannya, ternyata banyak masyarakat yang datang membawa perangkat-perangkat elektronik bekas.
Perangkat – perangkat itu sudah rusak parah, tetapi memang masih ada beberapa sparepart yang bisa dimanfaatkan.
“Sparepart ini lebih bagus untuk jadi pengganti, dari pada beli baru tapi KW,” jelasnya.
Dari banyaknya barang elektronik rusak yang berdatangan menjadi diantara alasan yang kemudian mendorong berdirinya komunitas tersebut.
Baca Juga:Cerita Pedagang Parcel di Kota Bandung, Omsetnya Bikin Geleng-geleng Kepala!Terdampak Pembangunan Tol Getaci, Pemkot Bandung Lepas 21 Bidang Tanah Senilai Rp127 M
Diantara visinya adalah untuk membersihkan sampah elektronik di Kota Bandung ataupun di Indonesia.
“Ternyata banyak juga sampah-sampah elektronik ini. Makanya kami kumpulkan agar bisa diolah dengan baik,” imbuh Dimas.
Fahmi, salah satu pengurus komunitas menambahkan, beberapa pengurus dan anggota yang bergabung memang salah satunya memiliki latar belakang anak pecinta alam.
Sehingga ada keprihatinan juga jika sampah-sampah elektronik ini mencemari lingkungan.
Fahmi mencontohkan, sampah baterai laptop atau gadget juga tidak bisa sembarangan dibuang ke tempat sampah. Tetapi butuh penanganan khusus.
“Itu bisa membahayakan tukang sampahnya, bisa bikin mlepuh tangan,” terangnya.
Pada 2020, komunitas ini resmi dicetuskan. Komunitas tidak hanya menerima laptop ataupun gadget, tetapi juga sampah-sampah elektronik lain. Seperti kipas angin, TV bekas, hingga kabel bekas.
“Ada juga yang kirim laptop tapi kosongan sudah tidak ada sparepart elektroniknya, jadinya itu sampah plastik,” canda Fahmi.
Mekanismenya, sampah – sampah itu dapat dibeli oleh komunitas. Masyarakat juga bisa menyerahkan sampah itu secara gratis atau sistem donasi.
“Dari pada jadi penyakit mending dijadikan duit,” imbuh Fahmi.
