Membicarakan Nasyid Dahulu dan Nanti, dari Musisi hingga Kolektor

Pameran dan Diskusi Kaset CD Nasyid di Kedai Jante, Kacapiring, Batununggal, Kota Bandung. Foto: Akmal Firmansyah/Jabarekspres
Pameran dan Diskusi Kaset CD Nasyid di Kedai Jante, Kacapiring, Batununggal, Kota Bandung. Foto: Akmal Firmansyah/Jabarekspres
0 Komentar

 

Pembicaraan mengenai Nasyid juga tidak terhenti dalam hati yang sejuk, Irfan Hidayatullah personil Nasyid band bernama Mupla menjelaskan bagaimana nasyid yang dari negeri Jiran kemudian masuk ke Indonesia bersama aliran keagamaan yang lain, musik nasyid menggunakan acapella hingga berkembang memakai alat musik, nasyid dan aktivisme politik di Indonesia hingga membicarakan nasib dan dunia industri.

jadi dulu pas SD saya itu punya temen, ia pinjam lirisan fisik album nasyid, gak lama ketemu ketika SMP ia udah jadi mualaf, jadi bisa disebut sebagai dakwah juga, siapa yang tahu ternyata dirinya masuk Islam karena itu,” sebutnya.

Pembicaraan mengenai Nasyid juga tidak terhenti dalam hati yang sejuk, Irfan Hidayatullah personil Nasyid band bernama Mupla menjelaskan bagaimana nasyid yang dari negeri Jiran kemudian masuk ke Indonesia bersama aliran keagamaan yang lain, musik nasyid menggunakan acapella hingga berkembang memakai alat musik, nasyid dan aktivisme politik di Indonesia hingga membicarakan nasib dan dunia industri.

Baca Juga:Larangan Gelar Buka Bersama, Walkot Bandung: Kita Ikuti Regulasi PusatPasca Tutup Total, Pedagang Cimol Gedebage Kembali Membuka Gerainya

“jadi dulu itu nasyid itu banyak yang menggunakan acapella, Mupla aja di beberapa albumnya ada yang menggunakan acapella, kemudian fikih berkembang terlepas nantinya ada yang mengatakan halal dan haram, dulu juga Mupla ragu-ragu dulu untuk pakai alat musik, tapi kemudian pakai,” tutur Irfan.

Irfan juga bercerita mengenai nasyid yang tidak seperti dulu nasibnya, saat ini nasyid berkembang ada yang menyebutnya sebagai musik positif, meski dirinya tidak menyetujuinya akan istilah tersebut ia lebih memilih dengan sebutan nasyid, entah batasan nasyid dan bukan nasyid seperti apa. Akan tetapi menurutnya nasyid saat ini nasyid itu kurang berkembang apalagi bila dihadapkan dengan persoalan industri.

Menurutnya dulu Nasyid banyak digandrungi oleh kaum muda, undangan manggung di SMA-SMA selalu ada, saat ini zaman sudah bergeser, tidak hanya itu dirinya juga menuturkan bagaimana nasyid menjadi alat kampanye partai politik Islam di zaman reformasi.

“dulu Mupla undangan manggung di SMA-SMA itu hampir selalu bentrok, sekarang amat jarang, bahkan Pasantren juga. Malahan dulu sempat manggung di Partai politik Islam untuk menggaet suara mungkin,” tuturnya.

0 Komentar