Meneladani Sifat Amanah Dari Khalifah Ali bin Abi Thalib

Memang benar, engkau adalah sauda- raku. Karenanya, aku harus membantumu dengan uang pribadiku, semampuku, bukan dari uang rakyat.” Percakapan berlanjut dan Aqil terus mendesak ‘Ali agar memberikan uang dalam jumlah yang cukup dari kas negara sehingga dia bisa melunasi utangnya.

Sementara itu, lokasi mereka duduk mengarah ke Pasar Kufah. Mereka dapat melihat kotak penyimpanan uang para saudagar. Karena Aqil terus mendesak, ‘Ali akhirnya berkata, “Jika kau bersikeras agar aku menuruti permin taanmu, aku punya usul lain, Bila mau, kau bisa melunasi utangmu, bahkan kau masih memiliki sisa uang yang banyak “Apa yang bisa kulakukan?” jawab Aqil ingin tahu All menjelaskan usulnya, “Di sana terdapat kotak penyimpanan uang.

Begitu pasar bubar dan tak ada seorang pun di sana, segeralah ke sana dan bongkar kotak tersebut. Ambillah uangnya sebanyak yang kau ingin- kan Mengapa Portu Berwall Pokert “Memangnya, punya siapa kotak uang itu?” tanya Agil.

‘Ali menjawab, “Milik para saudagar pasar. Mereka menyimpannya di situ.” Aqil berkata, “Aneh! Kau menyuruhku membongkar kotak milik orang lain dan mengambil hasil jerih payah orang-orang tersebut, sementara mereka meninggalkan uang tersebut di sana dan pulang ke rumah dengan ber- tawakal kepada Allah.”

“Lalu, mengapa kau menyuruhku membuka kotak kas negara untuk keperluanmu? Memangnya itu milik siapa? Itu juga milik orang-orang yang terlelap di rumah mereka,” kata ‘Ali. Kemudian dia menambahkan, “Aku masih usul lain.

Itu pun jika kau berkenan.” punya “Apa itu?” tanya Aqil. All menjawab, “Jika kau setuju, ambillah pedang- mu, aku juga akan mengambil pedangku. Di kawasan elite Kufah, ada kota bernama Al-Hirrah, tempat para saudagar dan orang kaya tinggal.

Kita pergi ke sana ber sama-sama dan dalam kegelapan malam kita akan me nyerang mereka secara mendadak, lalu mengangkut hasilnya yang melimpah.” “Saudaraku, aku datang ke sini bukan untuk meram- pok seperti yang kau usulkan. Aku bilang, instruksikan pegawaimu agar menarik uang dari kas negara yang ber- ada dalam wewenangmu, sehingga aku bisa menghapus semua utangku,” demikian Aqil menolak usul itu.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan