Adaptasi Tren dan Perkuat Medsos, Kunci Kampoeng Rajoet Bandung Mampu Bertahan

KREATIF: Pekerja di Kampoeng Rajoet sedang memproduksi pakaian rajut. Kerajinan ini tetap eksis karena mampu beradaptasi dengan tren fashion. (Hendrik Muchlison)
KREATIF: Pekerja di Kampoeng Rajoet sedang memproduksi pakaian rajut. Kerajinan ini tetap eksis karena mampu beradaptasi dengan tren fashion. (Hendrik Muchlison)
0 Komentar

BANDUNG – Kampoeng Rajoet Binong Jati Kota Bandung masih eksis. Salah satu kunci untuk menjaga barang produksi bisa tetap digemari adalah dengan adaptasi tren fashion terbaru dan memperkuat melalui media sosial atau medsos.

Koordinator Kampoeng Rajoet Binong Jati Eka Rahmat Jaya mengungkapkan, produksi fashion itu memang harus bisa adaptasi dengan perkembangan zaman. Karena tren fashion masyarakat selalu berubah-ubah. “Jadi perlu menyesuaikan dengan perkembangan yang ada,” katanya kepada Jabar Ekspres, Rabu (1/3)

Seperti yang sekarang misalnya, cardigan dan sweater lagi banyak digemari. Karena itu para perajin yang ada di Kampoeng Rajoet banyak memproduksi pakaian itu.

Baca Juga:Pinjol Legal OJK 2023 Terbukt Cair, Limit 20 Juta!Login 5 Minit, Cair Saldo DANA Gratis Rp 200 Ribu dari Aplikasi

Demikian halnya mendekati Ramadan dan Lebaran, fashion bertemakan baju muslim pasti banyak laku. Sehingga produksinya juga ditingkatkan.

Eka menambahkan, selain itu para produsen juga harus pandai-pandai memperkuat branding dan pemasaran melalui medsos. “Kami aktif bikin konten di media sosial, jadi bisa tetap survive,” jelas generasi ketiga penerus usaha kerajinan rajut itu.

Eka menceritakan, kampoeng rajoet yang berada di Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal itu sudah berdiri sejak pertengahan 1960 an. Dulunya dimulai dari 5 perajin yang bekerja dengan sistem maklun dari pabrik-pabrik besar.

Era 70 an, jumlah perajin berkembang dan mulai menggunakan mesin flat kniting. Jumlah perajin terus berkembang hingga saat ini ada 400 an perajin di kampung yang tidak jauh dari Jalan Soekarno Hatta itu. Dalam sebulan, produksi Kampoeng Rajoet bisa mencapai 4.500 lusin pakaian dengan berbagai jenis.

Untuk pemasaran produk juga tidak hanya di Kota Bandung atau daerah-daerah di Indonesia. Produk Kampoeng Rajoet telah banyak di ekspor ke mancanegara. Seperti Amerika Serikat maupun Malaysia.

Eka menambahkan, sejauh ini kalau dari stok bahan baku masih bisa terjaga. “Paling dari segi harga yang naik turun,” pungkasnya. (mg4)

0 Komentar