Ketika Doa dan Mimpi Menjadi Kenyataan

Editor:

Haris Pancawardana, S.Pd

 

UCAPAN adalah doa. Mimpi adalah sebuah harapan yang membuat kita semangat dalam menjalani hidup. Seharusnya doa dan mimpi bisa berjalan beriringan seperti sepasang sepatu, tidak harus berbarengan tapi seiya sekata dalam menghadapi kerikil dan tanjakan dalam perjalanan.

Berbicara tentang ucapan, jauh hari sebelum saya menjadi seperti sekarang, Seorang Calon Kepala Sekolah. Secara tidak sadar saya pernah berucap dan kini menjadi kenyataan.

Saat itu, saya masih kuliah sekitar semester 3 atau 4. Pada mata kuliah Manajemen Pendidikan. Dosen bertanya kepada mahasiswanya. Apa yang diharapkan dari mata kuliah Manajemen Pendidikan? Pengetahuan dan pengalaman apa yang ingin dicapai?

Saya yang waktu itu duduk dibarisan paling depan, dengan gaya yang seadanya nyeletuk “ Saya ingin menjadi kepala sekolah, dan mengetahui semua tentang manajemen sekolah”. Terang saja celetukan saya membuat ramai seisi kelas.

Mereka kaget karena celetukan saya yang tidak mencerminkan keseharian saya di perkuliahan. Saya masih suka tidak konsisten. Masih sering absen diperkuliahan, masih jarang mengerjakan tugas. Tentu saja, kami tidak pernah tahu bahwa ucapan saat itu menjadi kenyataan saat ini.

Ucapan saya waktu itu menjadi doa, dicatat oleh malaikat, yang menjadi kenyataan pada saat ini.  Sekarang saya sedang berproses dan hampir berada di garis  Finish, menjadi Kepala Sekolah SMP.  Mungkin jika pertanyaan itu ditanyakannya sekarang. Tentu saja, jawaban saya akan lain.

Sekarang mimpi saya lebih bijak, yaitu bisa bermanfaat untuk kebaikan orang lain dengan seluas-luasnya. karir dan jabatan tentunya hanya sebuah alat, tapi niat kebermanfaatanlah yang menjadi  tujuan utama.

Perubahan sikap saya itu dilatar belakangi oleh suatu cobaan yang menimpa keluarga kami. Bermula  pada tahun 2018 setelah anak kedua saya meninggal dalam kandungan ibunya. Saya merasa kehidupan saya banyak berubah.

Secara pribadi, saya berubah menjadi lebih tenang dalam menghadapi sebuah masalah. Saya juga merasa lebih banyak bersyukur ketika melihat bahwa banyak sekali orang yang hidupnya jauh di bawah saya tapi seketika mereka tidak merasakan beban hidup sedikitpun. Dan dalam karir, saya merasa ada satu turning point dalam hidup saya.

Ada proses yang tak mudah untuk dijalani dengan baik-baik saja, sampai akhirnya takdir mengantarkan saya ke jalan yang sebelumnya tidak saya rencanakan dan terpikirkan. Bahkan saya sendiri tidak yakin untuk melakukannya, yaitu menjadi Calon Kepala Sekolah.

Proses yang lama dan panjang telah saya lewati sampai akhirnya berani mendaftarkan diri dalam seleksi Calon Kepala Sekolah di Kabupaten Bandung Barat. Kelulusan sayapun bahkan sempat diragukan karena lulus menjadi Calon Kepala Sekolah dalam usia yang masih cukup muda.

Dalam proses pembentukan diri dari guru Bimbingan Konseling dan diberi tugas tambahan  menjadi wakil kepala Sekolah bagian kesiswaan dan kini menjadi Calon Kepala Sekolah yang menunggu di lantik. Tentu saja ada figur-figur atasan dan senior yang membimbing, mengarahkan serta memberi contoh kepada saya untuk menjadi seorang Kepala Sekolah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *