Rp 78 T

Oleh Dahlan Iskan

APENG, sebaiknya Anda pulang.

Sudah banyak pengusaha yang memilih bersembunyi di luar negeri. Mereka pada akhirnya menyesal. Semua rekan bisnis Anda kan ada di sini. Banyak keluarga juga masih di sini. Rejeki juga ada di sini.

Apeng, maafkan saya memanggil dengan nama panggilan akrabmu. Bukan nama paspormu: Surya Darmadi. Semua teman memanggilmu begitu. Anda juga senang dipanggil dengan Apeng, nama panggilanmu sejak kecil di Medan.

Memang berita di media sangat mengerikan: Anda disebut sebagai koruptor terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Nilai korupsi yang dituduhkan pada Anda sangat fantastis: Rp 78 triliun. KPK saja belum pernah mengungkap nilai korupsi dengan angka yang sulit dihitung itu.

Tentu, sebagai pemilik konglomerasi Darmex group, Anda merasa masih perlu berpikir dulu: bagaimana menghadapi tuduhan itu. Berpikirlah. Tapi segeralah pulang. Mintalah pengacara yang paling Anda percaya untuk mendampingi Anda.

Anda bisa pilih salah satu dari tiga jenis pengacara: yang high profile, yang biasa-biasa saja atau yang Anda anggap dekat dengan penguasa. Terserah Anda.

Setelah mantap dengan pengacara pilihan Anda, pulanglah segera. Jelaskan kepada publik duduk perkaranya seperti apa. Jelaskan juga kepada penegak hukum.

Mungkin, menurut Anda, angkanya tidak sebesar itu. Bahkan, bisa jadi menurut Anda, Anda tidak bersalah. Siapa tahu. Bisa saja pengacara Anda menemukan dalih bahwa Anda ”hanya” melakukan ‘pelanggaran’, bukan melakukan kejahatan.

Pelanggaran dan kejahatan itu dua hal yang berbeda. Pun sanksi hukumnya. Anda kan bukan korupsi uang negara dalam pengertian seperti korupsi di proyek APBN.

Anda juga tidak mencuri tanah dalam pengertian harfiah. Tanah yang Anda tanami kelapa sawit itu masih ada. Masih utuh. Masih di tempatnya dulu: di Indragiri Hulu. Bahkan tanah itu kini lebih terawat. Anda tidak membawa lari tanah itu dari Riau, lalu Anda bawa lari ke Singapura.

Sejauh yang saya baca di media, Anda menanam kelapa sawit di tanah hutan milik negara. Luasnya 37.000 hektare. Di Indragiri Hulu, Riau.

Anda tidak ujug-ujug datang ke Riau langsung bertanam sawit di lahan itu. Anda urus dulu tanah itu di kantor kabupaten. Bupati Indragiri Hulu, Raja Thamsir Rachman, memberikan izin kepada Anda. Mungkin karena Anda sogok. Atau sang Bupati yang minta disogok.

Di tahun 1999 itu boleh dibilang negara sedang lemah. Rakyat sedang kuat-kuatnya. Orde baru saja tumbang. Pemerintahan baru belum lagi stabil. Jabatan bupati lagi penting-pentingnya. Anda masuk ke sana di saat yang amat tepat.

Lalu Anda juga mengurus izin lainnya ke Gubernur Riau saat itu. Anda minta agar sang gubernur mengubah status tanah hutan menjadi tanah kebun. Toh sama-sama tanamannya. Mungkin karena Anda sogok sehingga izin perubahan lahan itu Anda dapatkan.

Di pengadilan, Gubernur Annas Maamun dinyatakan bersalah. Ia menerima suap dari Anda. Rp 3 miliar. Dari Rp 8 miliar yang Anda janjikan. Ia dihukum ringan sekali: 1 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Saya tidak tahu apakah Anda sendiri yang menyuap itu, suruhan Anda atau anak buah Anda, tanpa sepengetahuan Anda.

Kelihatannya Anda sudah pasti bersalah: menyuap. Anda pertanggungjawabkan itu. Anda bukan makan uang negara, tapi Anda menggunakan uang Anda untuk sebuah kejahatan menyuap –yang ini jelas bukan sekadar pelanggaran.

Lalu dari mana Anda dianggap korupsi Rp 78 triliun? Anda yang bisa menjelaskan.

Tentu saya tidak tahu persis. Media tidak ada yang menyebutkannya secara rinci. Maka dugaan saya angka itu datang dari sini:

Anda menguasai tanah negara seluas 37.000 hektare. Tanah itu Anda tanami sawit. Sejak tahun 1980-an. Sudah 40 tahun lamanya. Sudah menghasilkan beberapa ratus juta ton sawit. Atau miliar ton. Lalu Anda dirikan pabrik CPO –kalau tidak salah sampai 6 PKS. Atau 9. Atau lebih. Dari situ Anda menghasilkan beberapa ratus juta ton CPO.

Anda juga mendirikan pabrik minyak goreng. Mereknya Palma. Semua ibu tahu merek Palma. Sekarang mereka lebih tahu bahwa Palma adalah minyak goreng buatan Anda.

Semua itu, kalau dihitung mungkin bernilai sampai Rp 76 triliun. Mungkin begitu. Mungkin juga tidak. Karena tanah itu tanah negara, maka hasil itu mestinya milik negara.

Maka lebih baik pulanglah. Jelaskan menurut versi Anda. Saya sendiri tidak tahu apakah perhitungan korupsi seperti itu memang ada. Ikuti saja proses hukumnya.

Anda usulkan juga penyelesaian terbaik menurut Anda. Misalnya apakah Anda harus mengembalikan tanah 37.000 hektare itu ke negara. Toh Anda masih punya lebih luas lagi perkebunan sawit yang di luar tanah hutan itu.

Rasanya, kalau tidak salah, grup Anda menguasai 160.000 hektare. Di Riau dan Jambi. Yang jelas kebun itu tidak mungkin lagi Anda kembalikan dalam bentuk hutan. Apalagi hutan seperti wujudnya di tahun 1980-an. Anda jangan menyanggupi untuk bisa mengubah kebun sawit Anda menjadi hutan kembali. Tidak mungkin. Anda sudah tidak ingat pohon apa saja yang tumbuh di hutan itu dulu.

Anda juga tidak usah mempersoalkan mengapa negara menerima pajak-pajak dari Anda selama itu. Itu tidak bisa dipersoalkan. Perpajakan punya hitungan dan aturan sendiri.

Apeng, pulanglah. Anda dikenal sebagai pengusaha yang gigih di Medan. Juga pengusaha yang tumbuh dari bawah. Sampai akhirnya Anda mampu mendirikan Bank Kesawan –di Jalan Kesawan Medan. Anda memang sudah jual bank tersebut tapi bisnis Anda masih terus berkibar.

Pun sampai negara manca.

Apeng, sekali lagi, pulanglah. Rasanya bukan Anda sendiri yang pernah mengubah hutan menjadi kebun.

Pulanglah. Menjadi buronan sejak 13 Agustus 2020 itu tidak enak. Anda sudah merasakan itu selama dua tahun penuh.

Pulanglah. (Dahlan Iskan)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Ninja Ginsu

WYG S2021
Menurut penduduk di sekitar Sherpur rumah itu kosong tidak berpenghuni. Terjadi negosiasi tingkat tinggi lagi untuk meningkatkan popularitas Demokrat yang sudah sangat merosot menghadapi pemilu sela selain mengerahkan Pelosi untuk bikin sandiawara sukses di Taiwan, Al Zawahiri sudah 71 tahun lelah, pengen pulang ke Mesir maka terjadilah negosiasi itu, dikahayalkan Al Zawahiri ditikam Drone Ginsu padahal CIA sudah menyiapkan dokter bedah plastik & paspor baru untuk mengubah Al Zawahiri yag sudah setuju mengakhiri petualangannya. Dunia diprank Pelosi & Zawahiri demi meningkatkan popularitas Biden & Demokrat.

Ampun deh sekarang di negara kliwonpun sudah canggih bikin settingan tembak menembak di Duren Tiga, di Selamat pagi Indonesia, Djoko Tjandra, dll

Juve Zhang
911 memang peristiwa yg di kecam di mana mana, bahkan putra salah satu Taipan Indonesia juga jadi korban 911, dan satu satunya WNI. Para korban sudah lama minta kompensasi ke MBS karena intelijen menangkap ada peran pemerintah SA walaupun tak dibuka ke publik. Apakah Al Qaeda akan balas dendam? Sepertinya ide mereka di 911 ini entah dari siapa , yg jelas menyerang Iraq jelas salah. Dari cerita ternyata para teroris itu belajar menerbangkan pesawat nya malah di Amerika, bahkan ada yg kurang bagus bahasa Inggris nya di tolak jadi siswa pilot. Saking hematnya siswa pilot itu mengembalikan dana kelebihan nya dengan transfer uang ke luar Amerika sebelum melakukan 911.

rihlatul ulfa
ah emang aneh, udah tau pasti bakal di bunuh,kenapa pilih rumah persembunyian di pusat kota? atau termakan janji2 pengamanan tingkat tinggi dari anak buahnya sendiri.

rihlatul ulfa
untuk di artikel pagi ini abah ngasih tau, sesaat kalimat ‘anda sudah tahu’ karena kalau engga di kasih tau,saya benr2 gak tau hehe

rihlatul ulfa
enak banget jadi pak Mirza Mirwan dan pak Jimmy Marta semua komentarnya pasti terpilih. 🙁

Nurkholis Marwanto
Drone yang paling berkibar namanya saat ini yaitu Drone TB 2 Bayraktar, buatan Turkiye. sudah “Battle Proven” dipertempuran Nagorno Karabakh, perang antara Azerbaijan vs Armenia. Azerbaijan menang telak. Militer Armenia hancur lebur. Pertempuran bukan head to head dengan pasukan namun pasukan dengan drone. Di awal pertempuran Rusia vs Ukraina, drone ini juga banyak menyulitkan Rusia. Bagi Negara yang sistem pertahanan udaranya kopong, sudah pasti jadi sasaran empuk. Rusia sampai minta Turki agar Baykar makina membangun pabriknya di Rusia. Rasa-rasanya nama drone ini sudah mengalahkan MQ reaper milik AS yang membunuh Qasem Soleimani, Jenderal Iran. Tentu drone Orlan milik Rusia juga sudah menunjukkan kelasnya, di pertempurannya dengan Ukraina. Drone kamikaze Zala lancet milik Rusia juga sudah banyak melakukan misi penghancuran. Di pertempuran Rusia vs Ukraina, drone Zala lancet ini bersaing dengan Phoenix Gost buatan AS. Iran sudah membentuk skuadron drone tempur shahed 129, Negara sekelas Israel pun akan merinding melihatnya. Rusiapun kepincut untuk membelinya. Indonesia sudah punya drone Elang Hitam. Namun masih kepincut TB2 Bayraktar. Membeli untuk dipelajari boleh saja, namun impor untuk dijadikan alutsista utama bisa menjadikan kemandirian alutsista terhambat. Elang hitam harus diberi banyak misi. Mengincar sparatis atau koruptor. Kekurangan bisa diperbaiki. Namanya akan naik daun dengan suksesnya misi.

dabaik kuy
di indo jg ada yg baru sj kena rudal ginsu…

ceritanya mas joko pidato ….untung di indo pertalit 7600 di LN (prancis) 31rb…. dibalas netizen …di prancis UMR nya 21 juta dan rakyat dikasih uang bensin 1,7 jt perbulan….

duh td nya mau pencitraan subsidi pertalite malah di rudal ginsu sama netizen dgn perbandingan UMR….

dulu bilang tdk suka subsidi . skr subisidi malah dibanggakan … aneh memang mas joko ini

dabaik kuy
di indo jg ada yg baru sj kena rudal ginsu…

ceritanya mas joko pidato ….untung di indo pertalit 7600 di LN (prancis) 31rb…. dibalas netizen …di prancis UMR nya 21 juta dan rakyat dikasih uang bensin 1,7 jt perbulan….

duh td nya mau pencitraan subsidi pertalite malah di rudal ginsu sama netizen dgn perbandingan UMR….

dulu bilang tdk suka subsidi . skr subisidi malah dibanggakan … aneh memang mas joko ini

 

LiangYangAn 梁楊安
Pak Pry, di dalam buku “The 100 most important events in Christian history” tulisan A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen ; pada bagian terakhir buku tsb (peristiwa ke-100) dijelaskan mengenai : Three-Self Reform Movement yang kemudian disebut sebagai Three-Self Patriotic Movement, yang dikumandangkan oleh Mao Zedong menjadi semacam “paksaan” yang sangat menekan Gereja.

Budi Utomo
Betul Koh Liang Yang An. Mao memang bicara toleransi. Tapi itu sebelum Revolusi Kebudayaan (1966-1976). Saat Revolusi Kebudayaan atau Wenhua Geming 文化革命, semua agama ditindas karena dianggap saingan Marxisme. Dan nampaknya, penindasan itu tetap ada walau berkurang intensitasnya. Kasus Falungong 法轮功, sebuah aliran Tao 道 adalah bukti bahwa penindasan atas hampir semua agama tetap terjadi. Semua agama diawasi oleh pemerintah Tiongkok. Dikhawatirkan memberontak atau memicu pemberontakan. Sejarah Tiongkok mencatat banyak pemberontakan atas nama agama mulai dari Tao, Buddha, Kristen, Islam. Semua pernah terjadi. Tak aneh bila pemerintah Tiongkok tetap mengawasi semua agama. Mungkin hanya Konghucu satu-satunya perkecualian. Karena mengajarkan kesetiaan pada negara (baca: pemerintah). Begitulah ajaran moralitas Konghucu. Tak aneh bila semua dinasti di Tiongkok umumnya menetapkan ajaran Konghucu sebagai ideologi mereka. Bahkan Dinasti Mongolia Yuan 元 dan Dinasti Manchuria Qing 清 pun memakai Rujiao 儒教 alias agama Konghucu yang sekuler itu sebagai ideologi negara.

Johan
Mao belajar sejarah.

1. Peristiwa pemberontakan Taiping.

Dipelopori oleh oknum Kristen, yang menggalang massa lewat gerejanya, kemudian menyatakan dirinya sebagai saudara Yesus. Dan melakukan pergerakan untuk menumbangkan dinasti Qing.

2. Pemberontakan boxer.

Penindasan bangsa barat ke rakyat Tiongkok setelah pemerintah Qing kalah perang. Lewat perjanjian yang tidak adil, gereja menjadi tempat yang tidak boleh diganggu, sehingga gereja sering dipakai oleh penjahat sebagai tempat perlindungan. Pemerintah Qing yang tidak berdaya membuat rakyat marah dan akhirnya terjadi pemberontakan boxer dengan sasaran orang asing dan Tionghoa yang sekongkol.

Kejadian ini cukup menimbulkan trauma bagi sebagian orang Tiongkok terhadap gereja. Jadi bukan tanpa alasan kenapa gereja, kegiatannya diawasi ketat oleh pemerintah Tiongkok. Tempat ibadah dijadikan tempat pergerakan politik bawah tanah dan spionase pihak asing.

LiangYangAn 梁楊安
Sorry, I just want to discuss with Mr. Pryadi Satriana. Mr. Budi Utoma and Mr. Johan, you understand what I mean, don’t you. Thanks.

Pryadi Satriana
Pembunuhan thd Al-Zawahiri bukan “seenak perut” Amerika (istilah Bung Budi Utomo), ‘dibenarkan’ (justified) krn dg Osama pernah buat ‘fatwa’ memerangi & membunuh orang Amerika & sekutunya – militer maupun sipil. Pantas kalau diburu & dihabisi Amerika …

Mao Zedong jg pernah buat ‘fatwa’, dlm pidato “Tentang Penanganan yang Benar Konflik Internal Rakyat” (Guanyu Zhengque Chuli Renmin Neibu Maodun de Wenti). Pada 27 Februari 1957, Mao mengatakan,”Kita tidak boleh … memusnahkan agama, tidak boleh memaksa orang untuk tidak menganut agama, juga tidak boleh memaksa orang-orang untuk memercayai Marxisme.” Mao ternyata toleran …

Di sini, ada yg “memaksa” kelompok lain beragama sesuai “cara” mereka, dan kaum Syiah & Ahmadiyah pun dianggap “salah”. Karepe dewe ae …

Sing waras ngalah. Gusti ora sare.

Sehat selalu. Salam. Rahayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.