Covid-19 di Jepang Menggila, Sehari Tembus 231 Ribu Kasus

covid-19 di jepang
A staff members of the Tokyo metropolitan government wearing a protective face mask march as he calls for people to stay home after the government announced the state of emergency for the capital and some prefectures following the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, at an entertainment and amusement district in Tokyo, Japan April 14, 2020. REUTERS/Issei Kato *** Local Caption *** Seorang anggota staf pemerintah metropolitan Tokyo memakai masker pelindung berjalan sambil mengingatkan warga untuk tetap berada di rumah setelah pemerintah mengumumkan darurat negara untuk ibukota dan beberapa prefektur menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah distrik hiburan di Tokyo, Jepang, Selasa (14/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato/hp/cfo
0 Komentar

Jabarekspres.com – Baru-baru ini kasus Covid-19 di jepang menggila, ada 231 ribu kasus harian dan menjadi rekor tingkat dunia saat ini.

Dikutip dari World O Meter, Jumat, (5/8/2022), kasus COVID-19 di Jepang bertambah 231.597 dalam 24 jam. Seperti yang Jabarekspres rangkum dari berbagai sumber, ini merupakan kali kedua kasus harian COVID-19 di Negeri Sakura lebih dari 200 ribu.

Kasus harian serupa terjadi tanggal 24 Juli 2022 lalu. Maka, akumulasi covid-19 di jepang mencapai 13.344.898.

Baca Juga:Ini Dia! Zodiak Beruntung Tanggal 5 Agustus 2022, Semesta Sedang Mendukung Taurus8 Rekomendasi Film Survival Penuh Ketegangan

Alhasil, sejak akhir Juli 2022 lalu, petugas medis dan kaum lansia sudah sepakat untuk menerima vaksin dosis keempat. Hal ini untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran omicron sub varian BA.5.

Pemberian vaksin booster sudah dimulai di ibu kota Tokyo. Otoritas setempat akhirnya merestui pemberian vaksin tambahan bagi petugas medis lantaran di sejumlah fasilitas kesehatan, kini sudah mulai kekurangan tenaga medis. Bahkan, ada sejumlah operasi yang tak dapat dilakukan karena rumah sakit kekurangan petugas kesehatan.

Jepang tidak akan memperketat pergerakan masyarakat, meski penularan COVID-19 meningkat

Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Seiji Kihara mengatakan tidak akan kembali memberlakukan pembatasan pergerakan masyarakat. Alih-alih pemerintah pusat menerapkan pembatasan, mereka menyerahkan penanganannya ke pemda terkait. Namun, pemerintah pusat meminta agar pemda fokus untuk melindungi warga lansia dan kaum rentan.

“Daripada memberikan sebuah respons nasional, kami ingin mendukung respons yang diberikan oleh otoritas regional yang berbasis pada situasi di masing-masing wilayah. Penting bagi kita semua untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sosial di masing-masing perfektur,” kata Seiji.

Sementara, laporan dari kantor berita Kyodo, angka kematian akibat gelombang ke-7 COVID-19 ini memang lebih rendah. Tetapi, jumlah pasien kritis di sejumlah daerah di Jepang semakin meningkat. Artinya, jumlah kematian berpotensi mengalami kenaikan.

Jepang terlambat memberikan vaksin COVID-19 bagi anak di bawah usia 11 tahun

Menurut ahli penyakit menular di Universitas Kagoshima, Junichiro Nishi, salah satu penyebab meningkatnya penularan COVID-19 saat ini karena pemerintah terlambat memberikan vaksin kepada warga yang masih berusia muda yakni 5-11 tahun. “Saat ini rasanya sudah terlambat untuk menghentikan penyebaran, tetapi dalam jangka panjang, dosis ketiga untuk usia 5-11 tahun akan dibutuhkan,” kata Junichiro seperti dikutip dari harian The Guardian.

0 Komentar