Pada Tahun 2022, Setengah Warga Myanmar Terancam Jatuh Miskin

Ilustrasi - Sekelompok perempuan membawa obor saat mereka melakukan protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/pras/cfo/pri. (REUTERS/STRINGER)
Ilustrasi - Sekelompok perempuan membawa obor saat mereka melakukan protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/pras/cfo/pri. (REUTERS/STRINGER)
0 Komentar

Bank Dunia, yang sebelum kudeta memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Myanmar meskipun di tengah pandemi COVID-19, sekarang memperkirakan ekonomi negara itu akan berkontraksi lebih dari 18 persen tahun ini.

Kampanye Myanmar melawan penyakit itu kandas bersama dengan sistem kesehatan lainnya setelah militer menggulingkan pemerintah terpilih, yang telah berupaya meningkatkan pengujian, karantina, dan perawatan.

Layanan di rumah sakit umum runtuh setelah banyak dokter dan perawat bergabung dalam pemogokan dalam gerakan pembangkangan sipil di garis depan oposisi terhadap kekuasaan militer.

Baca Juga:Enggan Perpanjang Kontrak di Arsenal, Begini Alasan Eddie NketiahJelang Hadapi Madura United, Persib Geber Latihan Fisik

Lebih dari 1.200 orang telah dibunuh oleh pasukan junta, kata sebuah kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, dan protes telah berkembang menjadi pemberontakan bersenjata, yang memicu kekacauan di seluruh negeri. (ANTARA)

0 Komentar