BANDUNG – Isu kekerasan dan ekstrimisme banyak menyeruak akhir-akhir ini, salah satunya Taliban di Afghanistan dan penyerangan rumah ibadah pada beberapa daerah di Indonesia. Menyikapi hal tersebut komunitas Muslimah Reformis adakan kegiatan talkshow keberagaman.
Acara yang mengambil tema Harmony In Diversity tersebut digelar secara offline dengan jumlah peserta terbatas serta menerapkan prokes ketat.
“Acara ini bertujuan untuk mengajak para milenial agar sadar pentingnya toleransi di tengah keberagaman, selain itu kita juga langsung ada praktek pembuatan konten perdamaian untuk disebar luaskan melalui media sosial,” ucap Ketua Panitia, Rifa Rofifah, Kamis (9/9).
Baca Juga:Program Pelatihan Mengemudi Diharapkan Tingkatkan Keahlian Warga di BojongsariSalma Fauzani, Peraih Juara 1 Lomba Surat Cinta Untuk Bupati Bandung
Peserta sengaja didatangkan dari berbagai komunitas dan organisasi se-Kota Bandung yang telah melalui tahap penyeleksian terlebih dahulu. Kegiatan tersebut di gelar di Pesantren Anak Jalanan Attamur, Bandung. Kegiatan berlangsung kondusif dan dimeriahkan dengan banyak doorprize.
“Saya kira penting sekarang pemuda menjadi duta perdamaian di mana pun berada, termasuk kita kan dengar berita di medsos banyak kekerasan atas nama agama, sinisme antar golongan juga rasis karena warna kulit. Itu sangat membahayakan makannya acara ini kita buat sebagai bentuk, meskipun kita berbeda tetapi harus saling bersinergi,” tambahnya.
Menghadirkan, Gugun Gumilar, Ridwan Setiawan dan Ryan Sevian yang seluruhnya merupakan pegiat toleransi. Peserta dibekali cara pembuatan konten positif dan perdamaian di media sosial lengkap dengan tips dan trik agar postingan mampu menjangkau viewers lebih luas.
“Karena kalau kita gak sepaham soal toleransi maka nanti bakal banyak pertentangan yang membuat munculnya permusuhan. Kita sebagai anak muda gak mau seperti itu. Bagusnya saya berharap justru perbedaan adalah cara kita untuk lebih kreatif,” jelasnya.
Peserta mengaku antusias dan merindukan acara kumpul komunitas. Mengingat dalam dua tahun, sangat jarang kegiatan secara langsung dilaksanakan. Setelah dibekali konten para peserta bisa langsung menebarkan pesan positif dilingkungan masing masing, termasuk melalui medsos. Acara ditutup dengan penampilan musik dan pembagian masker kepada para peserta dan masyarakat sekitar. (mg1)
