Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Ateng Kusnandar Adisaputra
Ateng Kusnandar Adisaputra
0 Komentar

Tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, dalam pasal 2 nya mengatur “perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan”. Dengan demikian, perpustakaan berperan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat, sebagai wahana bermacam aktivitas transformasi pengetahuan (transfer knowledge), seperti pelatihan, tutorial, dan pendampingan kegiatan yang memiliki nilai ekonomis. Selain itu juga perpustakaan diharapkan berperan sebagai agent of change yang bisa mengubah perilaku masyarakat dari hasil membaca buku bisa mengimplementasikannya untuk pemberdayaan dirinya, dan masyarakat lainnya.

Sejak digulirkan tahun 2018, untuk mendukung program Tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial telah terbentuk Tim Sinergi di 32 Provinsi, ada 47 orang master trainer, telah terlaksana bimbingan teknis dengan peserta 762 orang, kegiatan stakeholder meeting, dan  peer learning dengan peserta mencapai 1.000 orang.

Tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadikan perpustakaan sebagai pusat berbagi pengalaman, belajar kontektual dan peningkatan keterampilan hidup. Dari 1.350 lokus tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, telah berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Perpusnas RI telah merilis dan mempublikasikan hampir 1.000 testimoni dari keberhasilan tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, diantaranya : Andi Samrawati, akibat pandemi Covid-19 penjualan kuenya menjadi sepi. Setelah belajar marketing online di perpustakaan Kabupaten Sinjai, dan mengimplementasikannya, sekarang penjualan kuenya menjadi meningkat. Asnal Mutoholib, setelah ikut pelatihan membuat sabun di perpustakaan Kabupaten Kudus, dengan modal Rp. 60.000, sekarang Asnal  membuka usaha sabun dengan keuntungan sekitar 150.000 ribu untuk sekali produksi. Kartini, mengembangkan usaha sayuran dan cabe keriting setelah mengikuti pelatihan pemanfaatan pekarangan di perpustakaan Kabupaten Sinjai. Nenek Kumi (Pohuwatu, Gorontalo) janda yang menghidupi empat orang cucunya, setelah mengikuti pelatihan pertanian organic di perpustakaan Kabupaten Pohuwatu, akhirnya menjadi petani organic dan bisa membiayai  biaya hidup empat cucunya dan biaya sekolahnya.

Baca Juga:Cegah Penyebaran Covid-19, PON XX Papua Bakal Terapkan Sistem IniTunggak Pajak Rp2,4 Miliar, KPP Pratama Kupang Gerak Cepat

Keberhasilan tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di jawa barat, diantaranya : para santri di Pesantren Baiti Jannati Kelurahan Cikundul Kota Sukabumi, yang lokasi pesantrennya berdekatan dengan Perpustakaan Kelurahan Cikundul, melalui kreativitas membaca buku pembuatan tempe dan sekaligus dengan pelatihan pembuatan tempenya, para santri telah berhasil membuat dan memasarkan tempe kepada masyarakat. Disamping itu juga, karena di lokasi pesantren ada kolam, para santri belajar membaca buku budidaya ikan lele, dan sekarang dari budidaya ikan lele yang dikelola oleh para santri, sudah menghasilkan pendapatan dari penjualan ikan  lele tersebut. Masyarakat Desa Kertayasa Kecamatan Kerta Agung Kabupaten Kuningan, melalui perpustakaan desanya yang bernama Insan Cita, anggota perpustakaan Insan Cita membaca buku tata cara budidaya magot, dan sekaligus pelatihan budidaya magotnya yang difasilitasi oleh perpustakaan Kabupaten Kuningan beserta Perangkat Daerah lainnya. Dari budidaya dan penjualan magot tersebut, anggota perpustakaan Insan Cita bisa menghidupi keluarganya.  Selain itu juga, anggota perpustakaan Insan Cita dari membaca buku sudah bisa membuat aneka bunga dari plastik.

0 Komentar