Covid-19 Varian Delta Tingkatkan Risiko Keparahan, Tapi Tidak Selalu Picu Kematian

Perburukan pada pasien Covid-19 umumnya terjadi di pekan kedua. Di tengah ganasnya Covid-19 varian Delta, pasien dalam kondisi berat makin banyak dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, tak semuanya pasti meninggal.

Seorang pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, data dari beberapa negara menunjukkan bahwa varian delta menyebabkan peningkatan risiko rawat inap pada mereka yang terinfeksi, tetapi tidak selalu membunuh atau meninggal dibanding varian lainnya. Dalam hal tingkat keparahan, WHO telah melihat beberapa negara menunjukkan bahwa ada peningkatan risiko rawat inap bagi orang yang terinfeksi varian delta.

“Namun kami belum melihat hal itu berarti peningkatan kematian,” kata pimpinan teknis Covid-19 dari WHO Maria Van Kerkhove, seperti dilansir dari CNBC, Selasa (24/8).

“Orang yang terinfeksi varian delta tidak meninggal lebih sering dibandingkan dengan strain lainnya,” katanya.

Van Kerkhove mengatakan para pejabat WHO bertemu setiap hari untuk membahas varian yang menyebar dengan cepat. Seperti strain lainnya, varian delta sangat berbahaya bagi orang yang memiliki kondisi mendasar, seperti obesitas, diabetes atau penyakit jantung.

Namun, ini jauh lebih menular daripada varian lain, sehingga menginfeksi lebih banyak orang dan membebani sistem kesehatan global.

“Jika Anda memiliki kondisi yang mendasarinya, berapa pun usia Anda, Anda berisiko lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit,” katanya.

Varian delta juga dengan cepat menyalip semua varian lain di mana pun terdeteksi. Sementara prevalensi varian lambda turun dan varian delta meningkat.

“Varian delta, di mana-mana diidentifikasi dengan cepat menggantikan varian lain yang beredar,” katanya.

Delta menyebar ke negara-negara Amerika Tengah dan Selatan dan dengan cepat menyalip varian lambda yang saat ini dominan di bagian dunia itu. Kini lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi Covid sejak awal pandemi, dua kali lipat dari 100 juta kasus dalam enam bulan terakhir.

“Dengan varian delta yang lebih menular dengan cepat menyebar, jumlahnya dapat dengan mudah mencapai 300 juta awal tahun depan,” kata pejabat WHO. (jawapos.com)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan