oleh

Tim Saber Pungli Jabar Akan Telusuri Pungli di Pasar Induk Caringin Kota Bandung

BANDUNG – Adanya postingan dan pemberitaan terkait keluhan sopir truk kontainer yang jadi korban Pungutan Liar (Pungli) di Pasar Induk Caringin langsung direspon oleh Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Jawa Barat (Jabar).

Anggota Kelompok Ahli Satgas Saber Pungli Jabar H.M.S Irianto mengatakan, pemungutan liar yang terjadi di pasar maupun di tempat umum sudah seharusnya di berantas. Pihaknya juga akan mendalami aksi Pungli yang terjadi pada di Pasar Induk Caringin Kota Bandung.

“Hal seperti ini harus di berantas di setiap pasar atau ditempat publik lainnya. Karena jika hal itu terjadi maka ini membebankan kepada biaya oprasional perdagangan yang ada,” ucap H.M.S Irianto saat dihubungi Jabareskpres.com di Bandung, Minggu (15/8).

Dia menilai, pungli tersebut dikhawatirkan menjadi beban pembiayaan tinggi sehingga harga jual akhirnya meningkat dan membuat rakyat sengsara.

‘’Saat ini dimasa pandemi tingkat ekonomi menurun dan daya beli berkurang. Jadi ini harus diberantas sampai akar-akarnya,’’kata dia.

Disinggung mengenai apakah Pungli di Pasar Induk Caringin terstruktur dilakukan pengelola pasar, dia menilai bukti struk atau kwitansi pembayaran benar adanya. Maka Saber Pungli Jabar dipastikan akan melakukan penyelidikan.

“Ini akan kita dalami, intelejen kita akan turun untuk mencari data ini, kalau ini ada keterlibatan dari pengelola pasar atau dilakukan secara masif bersama-sama dan terstruktur saya kira tidak ada alasan lagi,” katanya.

Terakhir, dirinya mengatakan, Saber Pungli Jabar tidak bisa membiarkan pungli tersebut merambah ditengah-tengah masyarakat apalagi di masa pandemi.

Jika benar terbukti, sambung dia, melanggaran aturan hukum yang ada dan akhirnya harus kita bawa ke undang-undang dan hukum yang berlaku.

“Saber pungli siap bekerjasna denhan masyatakat silahkan laporkan pada kami jika ada kejadian seperti ini, kita akan tuntaskan dan selesaikan dengan sebaik baiknya,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Seorang sopir kontainer mengeluh di Media Sosial (Medsos) Facebook setelah aksi Pungutan Liar (Pungli) terjadi di Pasar Induk Caringin Kota Bandung.

Melalui akun pribadinya dengan nama Angga Dinata, dia menceritakan, ketika membawa kendaraan kontainer dari Jakarta dan masuk ke Pasar Induk Caringin untuk mengantar bawang, harus membayar uang sebesar.

“Saya supir kontainer yg suka bawa Bawang ke Pasar Induk Caringin. Sebenarnya saya males untuk media in masalah ini. Tapi saya sudah jera ama kelakuan oknum yg tidak bertanggung jawab seperti ini,’” kata dia melalui postingannya di Facebook Minggu, (15/08).

Dia mengatakan, untuk masuk ke Pasar Induk Caringin banyak portal yang harus dilalui. Dari setiap portal, para sopir yang akan bongkar muat barang harus membayar uang masuk dan uang parkir. Tapi mirisnya, dari setiap portal jaraknya hanya beberapa meter saja.

“Saya masuk pintu masuk pertama Pasar Induk Caringin diminta uang parkir Rp 415ribu dengan bukti print out. Kemudian untuk gerbang portal kedua kembali diminta sebesar Rp 270 ribu,” kata dia.

Tidak sampai disitu, Lanjutnya, ketika sedang melakukan aktivitas bongkar barang, tiba tiba ada oknum polisi dateng minta uang Rp 100 ribu dengan mengancam akan menyita STNK kendaraan.

Ketika sudah beres bongkar muat Sopir tersebut didatangi Sekuriti pasar Induk Caringin dengan meminta tambahan lagi uang sebesar Rp 50 ribu.

Ketika dihubungi Jabarekspres.com, Angga mengaku bahwa aktivitas mengantar barang ke pasar Induk Caringin sudah dua kali. Dan kejadiannya hampir sama persis seperti itu.

Dia mengaku, untuk pengiriman barang dengan menggunakan kendaraan truk Kontainer di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta hanya dikenakan biaya Rp 400 ribu.

“Itu bersih tidak ada pungutan lain,” cetus dia.

Angga menambahkan, tujuannya memposting aksi Pungli tersebut hanya menuntut keadilan. Sebagai sopir yang mengatar barang pihak perusahaan hanya memberikan biaya operasional pas-pasan.

‘”Saya bilang seperti ini, hanya ingin keadilan pak, karena kalau ada pungli tidak mungkin saya bisa mengklaim uang pengganti karena tidak ada bukti struk dan saya yakin kejadian ini pasti menimpa sopir-sopir lainnya,” ucapnya.

“Tolong Pak Ridwan Kamil bantu kami untuk usut masalah ini pak. bukan saya aja yang kena sopir yang laen juga kena. saya mewakili supir supir lain pak yang masuk pasar itu, jadi kalau ditotal pengeluaran hampir Rp 1 juta pak,” pinta Angga yang nama asinya minta tidak disebutkan. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.