oleh

Implementasi Sagala Desa

Oleh : R. Firman Nurtafiyana (Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat – DPMDesa Jawa Barat)

(Peserta Penyetaraan Alumni Reform Leader Academy (RLA) dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II, LAN-RI Tahun 2021)

Pandemi Covid-19 yang belum berkesudahan ini, cukup memporakporandakan perekonomian. Tak terkecuali di perdesaan yang ditandai berkurangnya interaksi bisnis secara langsung maupun turunnya permintaan akan produk hasil desa.

Namun kondisi ini tidak serta merta meminggirkan peran dan pamor desa dalam pembangunan. Malah sebaliknya, pola kehidupan di perdesaan dianggap lebih menyehatkan bagi masyarakat dan daerah wisata dengan area terbuka yang banyak terdapat di perdesaan, terus ramai diserbu warga.

Hal lainnya adalah produk-produk pertanian pangan segar serta tanaman herbal dan obat-obatan mendapat permintaan yang melonjak.

Secara lebih luas, dengan berbagai dukungan kebijakan dan lebih terbukanya akses teknologi dan ekonomi, mendorong kesadaran yang lebih tinggi akan peran desa dalam pembangunan.

Desa tidak lagi dipersepsikan dan diidentikan sebagai daerah yang lebih terbelakang, miskin dan hanya penyangga dalam pembangunan.

Segala hal diawali dari desa, dilakukan di desa dan desa menjadi sumber pertumbuhan baru dan lokomotif pembangunan. Namun yang lebih penting, masyarakat desa jangan hanya menjadi penonton, menjadi konsumen namun berperan lebih luas sehingga kesenjangan dan kemiskinan perdesaan lebih bisa ditekan.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga