oleh

Ikan Channa untuk Pemula: Risalah Penghobi Sekaligus Peternak Channidae

Ia seolah tak terpengaruh apapun. Tetap berenang, meloncat sesekali, menghabiskan pakan dan beranak pinak.

Masa pagebluk Covid-19 mengoyak banyak hal. Selain kesehatan, banyak sektor yang turut terkoyak-moyak. Entah itu soal ekonomi, sosial, pendidikan, agama, bahkan sekelas industri hiburan pun turut kena, larangan konser musik contohnya. Namun bagi ikan channa, lain lagi ceritanya.

M. Nizar., Kabupaten Bandung.

“Mulanya main (pelihara) ikan pada tahun 2016. Sebelum channa, main ikan predator. Namun harga pakannya lumayan mahal. Nah, terus memutuskan main channa pada 2018 awal,” ucap Alief, seorang breeder ikan channa kepada wartawan jabarekspres.com di kediamannya, beberapa waktu yang lalu.

Channa masih termasuk ke dalam famili ikan gabus. Sebutan channa merujuk pada nama ilmiahnya, yakni Channidae. Selain itu, channa juga akrab dengan panggilan beken macam: snakehead. Panggilan tersebut mengacu pada bentuk kepala channa yang menyerupai kepala ular.

Tampak samping ikan channa berjenis auranti. (FOTO: Alief Salvatira)
Tampak samping ikan channa berjenis auranti. (FOTO: Alief Salvatira)

Animo para pecinta ikan hias maupun awam terhadap channa –yang ternyata berkerabat dengan ikan bogo– ini, sejak beberapa tahun ke belakang semakin menanjak.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Peternak Sapi dan Kambing di Sumedang Tak Khawatir Soal PMK

“Kalau channa, misal beli ulat hongkong Rp 5.000, bisa tahan sampe 3 minggu. Beli udang 1/4 bisa sebulan atau enggak 3 minggu. Dikasih makan juga kan enggak tiap hari,” sambung Alief, yang selain hobbies sekaligus breeder channa, ia juga masih terdaftar sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tengah menunggu jadwal sidang skripsi. “Seminggu paling banyak 3 kali.”

Hal itu dilakukannya sebab yang dikejar Alief bukanlah ukuran si ikan. “Jadi biarkan si ukuran dan usia ikan stabil. Jadi ketika usia ikan dan ukuran sudah sama, nanti juga warnanya bakal ngikutin,” katanya.

“Berbeda lagi kalau misal difokusin nge-push ikan, diberi makan tiap hari, otomatis umur belum matang, nah, si warna enggak bakal terlalu keluar,” sambungnya.

Pemuda asal Soreang yang berumur 24 tahun, dan pemilik nama lengkap Muhammad Alief Salvatira ini mengaku, awalnya ia bukanlah seorang breeder (peternak) ikan channa, melainkan hobbies alias cuma penghobi saja.

“Kebetulan kemarin tuh dikasih rezeki buat ternak. Maka dijual. Selain penghobi, maka secara tidak sengaja menjadi seorang breeder juga,” ungkapnya.

Baca Juga:  5 Fakta Menarik Ikan Red Devil, Hewan Cantik Tapi Mematikan

Berbeda dengan saat menjadi seorang penghobi, dirinya nyemplung menjadi peternak channa masih terbilang baru, circa tahun 2019. “Karena waktu itu ada ikan (channa asiatika) jantan, sudah lama disimpan di sini tapi enggak ada pasangannya. Dan hoki kali, ya. Alhamdulillah, kawin.”

Dengan sumber daya seadanya, ia melakukan budidaya ikan channa secara mandiri. Tak hanya manusia, sebelum kawin, ikan channa pun mesti melewati tahap pedekate atau PDKT alias pendekatan.

“Sistemnya disekat dulu. Ada semacam penghalang biar pedekate ikan-nya. Nah, setelah itu karena usia udah matang, jadi cepet birahinya. Sekat sehari lalu dibuka, besoknya ngebola (pembuahan) dua hari kemudian jadi (melahirkan) ratusan larva (anak-anaknya),” ujarnya.

Sepasang ikan channa sedang melakukan pembuahan (kawin) yang juga sering disebut dengan istilah “ngebola”. (FOTO: Alief Salvatira)

“80 persen jadi,” jawabnya saat ditanya soal banyaknya larva yang mampu bertahan hidup. Setelah mengetahui kalau hasil ternak lumayan banyak, ia mencoba peruntungan untuk menjajakan kepada para peminat ikan channa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.