oleh

Harga Pupuk Makin Tinggi, Petani Terbebani

SINJAI – Biaya operasional petani kian meningkat drastis, membuat sejumlah petani terbebani dengan harga pupuk yang ikut mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut dikeluhkan salah seorang petani di Kecamatan Sinjai Selatan, Bahtiar. Awalnya Bahtiar menduga jika kenaikan harga diduga karena perbuatan oknum penyalur. Namun setelah ditelusuri, harga memang naik.

Kondisi itu cukup memberatkan, sebab ketika panen, harga gabah tetap murah. Biaya operasional tak sebanding dengan hasil panen. “Ternyata kebijakan pemerintah pusat, bukan hanya di Sinjai,” katanya seperti dilansir FIN, Jumat (15/1).

Petani lainnya, Sudirman, mengemukakan, saat ini sudah memasuki masim tanam. Tentu butuh pemupukan. Setiap musim tanam, setidaknya butuh dua kali pemupukan. Sekali menebar pupuk, butuh lima karung.

“Biasanya pupuk hanya Rp90 ribu-an, sekarang di atas Rp100 ribu. Berat sekali,” ujarnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Sinjai, Marwatiah, mengatakan, kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) itu berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 49 tahun 2020 tentang alokasi dan HET pupuk bersubsidi sektor pertanian.

Harga pupuk urea dari Rp1.800 perkilogram (kg) menjadi Rp2.250 per Kg. Kemudian SP-36 dari harga Rp2.000 menjadi Rp2.400 per kilogram, ZA dari harga Rp1.400 per kg menjadi Rp1.700 per kg.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga