Negative Pressure

Saya punya pendapat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di DI’s Way dua hari lalu. Tapi saya ingin tahu pendapat TW itu. Sekaligus bisa untuk bahan pembicaraan sambil sarapan.

“Baiknya 10 juta pertama itu untuk seluruh dokter, perawat, dan tenaga medis. Termasuk untuk cleaning service yang bekerja di rumah sakit,” ujar TW. “Lalu untuk relawan, polisi dan tentara yang terkait dengan Covid,” tambahnya.

Ia pun menghitung-hitung berapa jumlah kelompok prioritas ini. “Cukup dengan 10 juta unit pertama itu,” katanya.

Baru tahap berikutnya adalah kelompok umur 20 sampai 50 tahun. Itu pun untuk mereka yang bekerja di sektor-sektor ekonomi yang produktif.  “Yang umur-umur seperti saya harus mengalah,” ujarnya.

Tentu orang seperti TW tidak perlu mengalah. Ia bisa membeli sendiri –mahal sekali pun.

Lewat tulisan ini saya harus minta maaf kepada dokter dan perawat. Saya tidak sepeka itu. Saya langsung mengarah ke sektor ekonomi. Saya terlalu terperanjat oleh target pemerintah. Yakni bahwa pertumbuhan ekonomi harus 5,5 persen tahun depan.

Lewat DI’s Way hari ini saya harus meralat tulisan saya dua hari lalu itu. Saya merasa tertegur oleh pendapat TW itu.

Pembicaraan di meja bundar itu pun meluas ke Tambling, proyek pelestarian alam yang ditanganinya di Lampung. Yang sekarang sudah menjadi habitat harimau terpadat di dunia. Juga ke pulau miliknya yang di lepas pantai Jakarta. Yang dulu untuk pusat rehabilitasi narkoba.

Juga ke soal kesehatan bank-bank nasional. Ke soal apa saja. Termasuk membicarakan masa lalu. Yakni ketika suatu saat tiba-tiba ia mengajak saya ke Bangkok: ia ingin sembahyang di ‘Buddha Empat Wajah’ di sana.

Saya hanya satu hari di Jakarta. Harus balik lagi ke Surabaya –dengan mobil yang sama. Kini jalur Jakarta-Surabaya pp sangat populer. Bagi saya juga ringan-ringan saja. Toh setiap kali ke Amerika saya lebih sering naik mobil. Ke kota mana pun. Berjarak 6.000 km sekali pun. Sedang Surabaya-Jakarta ini hanya kurang dari 700 Km.

Ternyata saya sudah enam bulan tidak ke Jakarta. Bisa Anda bayangkan betapa berdebunya rumah saya di Jakarta.(Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan