PACET – Duka kian mendalam dirasakan oleh para petani sayuran dikawan Cipanas, Pacet dan Cugenang. Betapa tidak setelah menunggu panen beberapa lama, hasil tanamannya ternyata tidak laku untuk dijual. Kalaupun dijual harganya sangat rendah dan tidak sebanding dengan biaya tanam hingga panen.
Seperti yang dialamai petani sayuran di wilayah Desa Sukatani, Kecamatan Pacet. Petani rata-rata mengeluhkan harga sayuran yang hampir tak laku dijual.
Acep (40) petani sayuran asal Kampung Gunung putri, Desa Sukatani Kecamatan Pacet ini mengaku tidak bisa berbuat banyak terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Dari beberapa jenis tanaman sayuran yang ia tanam di kebunnya pada saat panen tak laku dijual ke pasar, dengan alasan harga yang sangat murah.
Baca Juga:Pelatih Izinkan Beckham Ikut TC Timnas U-19 di KroasiaKim Jeffrey Nyatakan Siap Gelar Uji Coba
“Harga sayuran sekarang semuanya lagi lusuh, bahkan bisa dibilang tak laku dijual,” kata Acep, kemari
Ia mengatakan, bahwa untuk jenis sayuran hijau-hijauan bisa dibilang saat ini tak laku dijual. Diantaranya Pakcoy, cesin, polling, kol, sawi, dan masih banyak lainnya.
“Masa ia, harga kol saat ini dari petani cuma Rp 700 per kilogram, Pakcoy Rp 400 per kilogram, sedangkan untuk pemeliharaannya saja seperti belanja pupuk, bibit saja belum tergantikan,” katanya.
Acep berpendapat jika kondisi harga sayuran lebih baik pada saat pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ketimbang saat ini menjalani Normal Baru (New Normal).
“Kenapa, pada saat PSBB harga sayuran tak begitu jatuh atau bisa dibilang masih laku terjual, tapi sekarang pada Normal Baru seperti sekarang ini harga malah hancur,” ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut sangat berdampak sekali terhadap roda perekonomian di keluarganya bahkan mayoritas di Desa Sukatani sebagai petani sayuran.
“Saya lihat di kebun, tak sedikit mereka petani yang lebih memilihnya untuk tidak dipanen melainkan hanya di cabut lalu kembali ditanam untuk dijadikan sebagai pupuk. Hal tersebut dilakukan karena dinilai tak laku dijual,” katanya.
Baca Juga:Robert Tolak Laga Tandang Pakai BusPolemik Naturalisasi Pemain Asing
Acep mengatakan, di kebun sayuran blok Ciguntur Desa Cipendawa kurang lebih ada 100 hektare lahan perkebunan banyak petani yang merasa bahwa lebih baik dibuang atau dibiarkan begitu saja di kebun daripada dijual namun banyak tekornya.
