BWF Bakal Kembali Digelar

BANDUNG – Bandung Wayang Festival atau BWF akan kembali digelar pada Juli 2020 mendatang. Event tersebut diinisiasi untuk mengangkat dan mempertunjukkan kembali seni pewayangan.

Wayang merupakan salah satu Warisan Tak Benda Dunia oleh UNESCO ditetapkan pada 7 November 2003 yang  perlu terus diapresiasi.  BWF hadir sebagai ajang apresiasi kepada para penggiat seni pewayangan dan melestarikan kembali wayang di tengah masyarakat.

Direktur BWF, Hermawan Rianto mengungkapkan, BWF tahun ini mengangkat tema utama mengenai Keragaman yang disalurkan melalui media Seni Wayang.  Mulai dari latar belakang budaya, agama, serta cerita yang akan dimainkan, juga beberapa ragam visual, filosofi hingga pendekatan baru, untuk menyampaikan pesan moral kepada penonton.

“Tahun ini yang kami angkat keragaman, wayang memiliki basis cerita, seperti ramayana, atau wayang propaganda, dulu ada wayang yang berkaitan dengan sejarah dan lainnya, keragaman ini, kita akan memberikan ruang kepada semuanya, wayang atas dasar interpretasi modern, atau wayang yang dimainkan oleh generasi baru, sehingga ini pada tahun ini kami mencoba angkat keberagaman,” ujar Hermawan dalam Konferensi Pers Road To Bandung Wayang Festival 2020, di Hanggar Kopi Sunda, Jalan Anggrek no 51, Bandung pada Kamis (6/2).

Sebagai pengantar, pada 8 dan 9 Februari akan digelar Road to Bandung Wayang Festival di Cihampelas Walk, dengan memapilkan tiga acara utama. Yaitu, pagelaran Wayang Potehi Rumah Cinwa, Wayang Ringkang (45 dalang) dan workshop alat musik tradisi serta Wayang daun singkong.

Hermawan mengungkapkan,  target penonton wayang tahun ini menyasar kepada generasi muda. Ia berharap, agar pemuda menjadi penerima tongkat estafet penerus budaya Wayang. Sehingga Wayang perlu untuk dipertontonkan kepada generasi muda.

“Sebetulnya untuk tertarik kita harus paham dan kenal, untuk kenal!harus terbiasa melihat, dan untuk terbiasa melihat harus serimg ditampilkan, sehingga anak muda menjadi peduli dengan adanya Wayang. Kita sibuk dengan band, tapi nyaris wayang menjadi tontonan langka,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *