Menakar Peluang Bank bjb Hadapi Ancaman Resesi Global

Komposisi Kredit Bank bjb

Kuartal III-2019Kuartal III-2018Pertumbuhan
consumer55,5249,1313%
Micro5,765,279,4%
commercial14,0214,09-0,6%
mortgage6,185,718,2%
Total81,4874,229,8%

Rp Triliun

Sementara itu DPK tumbuh 10% menjadi Rp 92,53 triliun dengan dana murah (CASA) mendominasi 51,5%. Sama seperti kredit penghimpunan DPK pada kuartal III lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 7%

Lebih rinci, tabungan tumbuh 6,9% menjadi Rp 18,02 triliun, diikuti deposito tumbuh 10,7% menjadi Rp 44,88 triliun. Adapun giro tumbuh 10,9%% menjadi Rp 29,63 triliun.

Faktor lain yang membuat bank ini kuat menghadapi ketidakpastian adalah tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada September 2019 berada pada level 1,75% secara gross dan 1,0% secara nett. Tingkat NPL ini sangat rendah dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan

Bantalan lain dalam menghadapi ketidakpastian adalah Bank bjb juga telah meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sesuai PSAK 71. Tidak tangung-tangung bank yang dipimpin oleh Direktur Utama Yuddy Renaldi ini mencadangkan laba sekitar Rp 80 miliar perbulan. Total CKPN hingga akhir September 2019 sebesar Rp 1,37 triliun dengan coverage rasio sebesar 96%.

BPD serta perbankan lainnya, mengalihkan keuntungan ke CKPN untuk memenuhi regulasi. Dalam regulasi ini CKPN dibentuk ketika kredit disalurkan, bukan lagi ketika terjadi keterlambatan pembayaran seperti PSAK 51. Artinya, Bank harus membentuk CKPN untuk semua kredit, termasuk yang tergolong lancar, dan yang telah disalurkan sebelumnya.

Peningkatan CKPN Ini berperan menurunkan profitabilitas Bank bjb pada kuartal III-2019. Laba bersih bank only turun dari Rp 1,32 triliun menjadi Rp 1,11 triliun.

Selain itu penurunan NIM sebesar 83bps menjadi 5,69% juga berperan menurunkan laba. Hal ini seiring dengan kenaikan biaya dana dari 4,9% menjadi 5,4%. Namun, NIM bank bjb tersebut masih di atas rata-rata perbankan yang tercatat 4,9%.

Ibarat sedia payung sebelum hujan, peningkatan CKPN cenderung positif untuk menghadapi ketidakpastian. Bila dampak resesi benar-benar menghantam Indonesia, maka bank ini termasuk yang paling kuat menghadapi risiko-risiko yang ada. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan