”Banyak bangun sudah usang, dan menghawatirkan, tapi karena polemik ini terus terjadi sejak beberapa tahun lalu, ada bantuan dana dari dinas pendidikan tapi kami tidak bisa membangun. Ada perbaikan paling pada hal-hal kecil, jika ada genteng bocor kami menambal. Tidak bisa melakukan perbaikan lebih,” Ujarnya
Meski begitu, lanjutnya, proses belajar mengajar tetap berlangsung walau dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Saat ini, kata dia, tercatat ada 75 siswa penyandang disabilitas yang sedang menempuh pendidikan di SLBN A dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
”Ya kami berharap ini bisa cepat selesai, agar semua berjalan dengan baik dan tidak ada yang dirugikan,” bebernya.
Baca Juga:Kejari Terima Berkas Perkara Pengeroyokan yang Menyebabkan Korban MeninggalHonda DBL 2019: Tim Basket SMA 1 Bina Bakti Siap Unjuk Gigi
Tri menuturkan, dari pihak yayasan dan Forum Penyelamat Pendidikan Tunanetra berharap keputusan ini dikaji kembali, dan meminta Presiden Joko Widodo untuk membantu yayan agar segera menghibahkan komplek Wyata Guna kepada pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat untuk penyelenggaraan pendidikan bagi Tunanetra.
”Juga bisa untuk penyelenggaraan asrama dalam bentuk panti rehabilitasi, sesuai amanat UU no. 23 tahun 2014 tentang otonimi daerah,” tutupnya.(mg4/ziz)
