Lagipula, tuturnya, menambah parpol koalisi akan berat untuk Jokowi-Maruf. “Karena memang DNA-nya berbeda, apalagi PKS dengan pemerintahan pak Jokowi ini,” lanjutnya. Namun, bisa saja beberapa parpol seperti Demokrat dan PAN masuk, tentu dengan satu syarat. Jokowi harus mampu meyakinkan partai pendukungnya bahwa bergabungnya kedua parpol itu adalah yang terbaik bagi bangsa.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, sekarang istilahnya sudah bukan lagi koalisi pemenangan. “Tapi adalah sebuah kerjasama dalam rangka terwujudnya janji-janji kampanye presiden untuk kemajuan Indonesia raya kita,” terangnya.
Dibandingkan 2014, tutur Hasto, saat in koalisi pemerintah memang sudah jauh lebih baik dan stabil untuk menyokong kerja pemerintahan. Karena dukungan di parlemen mencapai 61 persen. Apalagi sudah tidak ada polemik karena UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) memastikan pemenang pileg akan menjadi Ketua DPR. Kondisi itu membuat konfigurasi politik menjadi jauh lebih baik.
Baca Juga:Berikan Sinyal untuk AirlanggaPPDB Tingkat SMP di Padalarang Membeludak
Bagaimanapun, ujar Hasto, dalam sebuah sistem demokrasi perlu ada sikap dari pihak yang berada di luar pemerintahan untuk ikut menyehatkan kualitas demokrasi. Sampai saat ini, komunikasi antarpartai pun tetap berjalan khususnya di parlemen.
Sebagai parpol pendukung utama Jokowi, pihaknya meyakini struktur kabinet pemerintahan ke depan akan lebih berbasis kualifikasi yang diperlukan. Namun, parpol koalisi yang sudah bersama sejak pencalonan tentu akan ikut menempatkan kadernya di kabinet. “Tetapi ini hak prerogatif dari bapak presiden,” lanjutnya.
Bila dikaitkan dnegan parpol di luar pemerintahan, selama ini Jokowi termasuk orang yang fleksibel. Pihak-pihak yang ada di luar pemerintahan secara rutin diajak berdialog. Sehingga, tinggal menunggu meomentum kapan hal itu akna terjadi. “Dialog dengan Gerindra, dengan Demokrat, jangan terlalu cepat dimaknakan sebagai bagi-bagi kursi menteri,” tambahnya.
Sebelumnya usai penyerahan SK penetapan presiden dan wapres terpilih, Jokowi sempat menyampaikan kalimat bersayap. “Saya mengajak pak Prabowo Subianto dan pak Sandiaga Uno untuk bersama-sama membangun negara ini,” ucapnya. Dia memnyampaikannya dengan nada datar sehingga sulit untuk menebak arahnya.
