oleh

Ayo Bangun Indonesia, Pesta Demokrasi Sudah Berakhir!

Hal yang terpenting adalah pengadilan, lanjut Zoelva, memberikan alasan hukum yang benar, memutuskan se­suai hukum dan fakta dan itu bisa diuji dari hasil putusannya.

Sebagai orang yang pernah menduduki jabatan Hakim MK, Zoelva menilai putusan hasil sengketa Pilres 2019 yang dibacakan Jumat (27/6) lalu, adalah putusan yang be­rimbang, rasional dan sangat komprehensif.

Dibutuhkan hati dan pikiran yang jernih untuk memahami putusan tersebut berimbang dan komprehensif. Membaca dengan cara pemikiran pera­dilan, maka hasil putusan dapat dipahami. “Tetapi jika hati yang prasangka sampai kapanpun tidak akan puas dengan putusan MK,” ujarnya.

Pelaksanaan Pemilu di Indo­nesia tidak sepenuhnya sem­purna, masih ada kekurangan pada penyelenggara pemilu yang harus terus dievaluasi bersama, menjadi pembelaja­ran untuk memperbaikinya di masa akan datang.

Tapi tahun ini institusi dan budaya demokrasi di Indo­nesia berkembang cukup baik, walau belum sempurna ka­rena hakekatnya demokrasi itu tidak pernah final. “Jadi demokrasi itu terus dinamis dan berkembang,” kata pria kelahiran Bima, Nusa Teng­gara Barat (NTB) ini.

Apa yang sudah terjadi adalah pembelajaran hidup yang berarti, rakyat yang tadinya terbelah kini bersatu sama-sama membangun negeri menjadi bangsa yang besar dan disegani. Seluruh Rakyat tetap berpartisipasi dalam pemerin­tahan, ujarnya. Bagi yang opo­sisi juga bisa mengkritisi se­cara bersama-sama jika tidak setuju dengan pemerintahan.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga