INI kejutan. Juga bukan. Tiba-tiba saja Presiden Donald Trump unggah twitter. Selasa lalu: segera mengenakan tarif tambahan. Dari 10 persen ke 25 persen. Untuk barang Tiongkok. Yang masuk Amerika. Senilai 200 miliar dolar.
Bukan kejutan karena sudah biasa Trump belok tidak di tikungan seperti itu. Kejutan karena twitter itu hanya sehari sebelum keberangkatan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He, ke Washington. Untuk perundingan terakhir. Menjelang disepakatinya pengakhiran perang dagang kedua negara.
Lalu untuk apa berangkat? Bukankah bunyi twitter itu sama dengan tidak ada gunanya perundingan?
Baca Juga:e-Paper Jabar Ekspres Edisi 8 Mei 2019Ketua MUI Katakan Pemilu 2019 di Kabupaten Bandung Jujur Adil dan Transparan
Liu He ternyata memang tidak jadi berangkat hari itu. Lalu dipikir ulang. Tidak boÂleh ikut emosi. Akhirnya beÂrangkat juga. Tertunda satu hari. Toh masih sempat. JadÂwal perundingannya dimulai hari Kamis ini. Sampai Jumat besok. Pas saja. Dari bandara langsung ke meja perundinÂgan.
Hanya saja muncul pertanÂyaan: jadi atau tidak. PerundÂingan kali ini final. Semua sepakat. Seperti yang rumuÂsannya sudah dibuat dalam 12 kali perundingan selama ini.
Tidak jadi pun tidak apa-apa. Liu He sudah beli tiket pulang. Jumat malam. Ia sengaja memÂperpendek kedatangannya kali ini. Berangkat lebih lamÂbat. Pulang lebih cepat. SebÂagai respons atas twitter Trump itu.
Siapa tahu Jumat pagi ada twitter baru dari Trump. Apa pun isinya. Tiongkok sudah lebih siap menerima kenyataÂan baru: tidak bisa melunakÂkan hati Trump.
Bocoran yang mengalir ke media: Amerika menghenÂdaki Tiongkok mengubah beberapa UU negaranya. Tiongkok berkeras tidak mau.
Amerika menganggap TionÂgkok tidak serius dalam melakukan perubahan. Agar negara itu lebih terbuka. Terutama di bidang perdaÂgangan, investasi, teknologi, hak paten dan moneter. TionÂgkok sudah menyanggupi. Hanya saja bertahap. Agar tidak mengguncang stabilitas negara.
Bocoran lain: Amerika mengÂhendaki tidak ada lagi subÂsidi negara untuk BUMN Tiongkok. Terutama yang terkait dengan program Made In China 2025. Yang, kasarnya, apa pun sudah bisa dibuat Tiongkok di tahun itu. Sudah tidak perlu lagi Amerika.
