NGAMPRAH– Sekitar 75 persen anak panti asuhan di Kabupaten Bandung Barat masih memiliki keluarga. Sebagian di antara mereka biasanya menjalani reunifikasi atau kembali kepada keluarga setelah berusia 18 tahun.
“Ada sekitar 75 persen anak panti asuhan memang masih punya keluarga, baik itu orangtuanya ataupun kerabatnya,” sebut Kosim, Ketua LKSA KBB, Minggu (2/12).
Kosim menambahkan, sebagian besar anak yang dititipkan ke panti asuhan merupakan keluarga pekerja migran. Selain itu, mereka dititipkan karena orangtuanya bercerai, sehingga panti asuhan menjadi alternatif.
Baca Juga:Bantuan Kementan Diduga DijualbelikanBPBD Terus Tekan Risiko Bencana
Dia menuturkan, pengelola panti terus membujuk anak-anak asuhannya agar kembali kepada keluarga. Sebab, pengasuhan oleh keluarga lebih baik dibandingkan dengan panti asuhan.
“Di keluarga, perhatian kepada anak lebih intensif. Kalau di panti, satu pengasuh bisa menangani 5-10 anak. Jadi memang, pengasuhan oleh keluarga itu yang terbaik,” ujarnya.
Tugas panti asuhan, lanjut Kosim, tak hanya memberikan pengasuhan bagi anak-anak telantar. Namun, juga menjamin pendidikan hingga SMA serta memberikan keterampilan hidup.
“Setelah lewat usia 18 tahun, diharapkan mereka sudah bisa mandiri, bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, bekerja, ataupun kembali kepada keluarganya,” ujar Kosim.
Dia menambahkan, saat ini tercatat ada 38 LKSA di Bandung Barat, 24 di antaranya sudah tersertifikasi. Sertifikasi ini tak hanya untuk menjamin mutu lembaga, tetapi juga untuk bisa mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah.
Sementara itu, Sekretaris LKSA Al-Kautsar Lembang, Tugiman mengungkapkan panti asuhannya kini sudah mendapatkan akreditasi A dari Kemensos. Hal ini tentu mendorong pihaknya untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan terhadap para anak asuh.
Saat ini, lembaga tersebut memiliki 58 anak asuhan di dengan usia balita hingga remaja usia SMA/SMK. Mereka rata-rata dititipkan keluarganya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi tidak semua kerabat mengunjungi mereka secara intensif.
Baca Juga:2019 Fokus Infrastruktur, Kesehatan dan PendidikanRencana Perluasan Taman Djuanda Belum Tersosialisasikan
Untuk biaya operasional panti yang berdiri sejak 1995 itu, menurut Tugiman, ada sumbangan dari pemerintah daerah, provinsi, pusat, dan para donatur.
