Putaran Akhir Napak Jagak Pasundan 2018 Berlangung Meriah

“Pastinya kami akan menghadir­kan kembali gelaran tersebut dengan konsep yang ber­beda dan akan dinantikan oleh masy­arakat Jawa Barat,” kata Tries Pondang.

Jalannya perhelatan memang terbuk­ti meriah. Masyarakat dari berbagai ka­langan pun saling berbaur dan menik­mati setiap pertunjukan yang disajikan.

Mulai dari Kecapi Jenaka, Gondang Arumba, Rampak Kendang Padepokan, Seni Dangiang Mustika Sari, Bodoran Calung, Papuri Ethno Proggerisive, Pa­puri Dancer, Ega Robot Ethnic Percus­sion, enampilan tarian Sandrina, Pencak Silat, hingga pertunjukan Angklung Saung Udjo, dan lainnya.

Serta yang dipaling ditunggu kehadiran­nya adalah penampilan dari Sandrina, musisi senior Nuki, Ega Robot, dan Doel Sumbang yang membuat suasana Lapangan Grand Pangandaran semakin riuh.

Sebelum tampil, Sandrina ingin mengajak generasi muda Panganda­ran untuk melestarikan kebudayaan Seni Sunda seperti Tari Jaipongan dan kesenian Sunda lainnya.

Musisi senior, Doel Sumbang pun mengaku, dirinya sangat bangga sela­lu tampil digelaran Napak Jagat Pasun­dan Coklat Kita. Sejak awal ada Napak Jagat Pasundan, yakni sejak 2013, Doel selalu diminta membawakan lagu-lagu berbahasa Sunda untuk tam­pil di atas panggung spektakuler dan tata artistik yang sangat hebat.

“Gelaran ini tentu menjadi sebuah pen­ghargaan bagi kita semua yang ingin melestarikan budaya Sunda. Oleh arena itu, semua seniman termasuk saya tentu berupaya menampilkan yang terbaik di even ini untuk masyarakat, Coklat Kita , dan untuk kita sendiri. Saya kagum ke­pada Coklat Kita yang sudah begitu besar tapi masih peduli untuk melestarikan dan mengapresiasi budaya daerah, termasuk budaya Sunda,” jelas Doel Sumbang.

Di tempat yang sama, seniman Karang Taruna Cikoranji dari Komunitas Cok­lat Kita, Yanto Harianto, mengatakan, alasan dipilihnya Kabupaten Pangan­daran sebagai kota pamungkas Napak Jagat Pasundan, karena Pangandaran memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang tinggi.

“Dengan membawa semangat keber­samaan, gelaran ini lahir dari kepedu­lian Coklat Kita terhadap nilai-nilai budaya Sunda. Lewat kebersamaan itulah, gelaran ini hadir di tengah-tengah masyarakat di tujuh daerah Jawa Barat sejak Mei 2018,” ujar Yanto. (adv/rie)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan