Guru Kota Bandung Dibekali STEM

Bambang memaparkan, Dinas Pendidikan Kota Bandung juga mengelompokkan sebanyak 245 sekolah menjadi 24 induk klaster yang berbasis wilayah atau zonasi. Dalam setiap wilayah juga terdapat lima hingga delapan induk klaster dari berbagai sekolah. Setiap induk klaster memiliki anggota delapan sampai sebelas orang dengan jumlah guru yang dikirim lima orang.

Lebih jauh, Bambang menjelaskan dalam induk klaster diisi berbagai macam komponen mulai pengawas sekolah sebagai penanggung jawab induk klaster, kepala sekolah ketua dan kepala sekolah anggota induk klaster serta Wakasek kurikulum sekolah yang memiliki induk klaster. Selain itu, ada master teacher dan guru sasaran serta operator STEM.

”Jadi komponen-komponen inilah yang berada di induk klaster dalam rangka menyukseskan kegiatan pembelajaran berbasis STEM,” kata dia.

Senada diungkapkan Kepala SMPN 6 Bandung Edy Suparjoto yang menyatakan jika sistem pembelajaran berbasis STEM akan bisa merangsang dan menstimulasi nalar anak-anak mampu berpikir kritis. Menurutnya, STEM akan mendorong siswa lebih kooperatif dan mampu bekerja sama bersama temannya.

”STEM kalau dikolaborasikan semua keilmuan dan konsep termasuk. Kemudian hal lain yang akan muncul adalah empati dan simpati. Anak akan bisa memaknai sebuah pembelajaran,” kata Edy.

Dikatakan Edy, pihaknya akan berupaya untuk memberikan stimulasi kepada guru-guru agar mampu memiliki keterampilan di abad 21. Edy menilai, jika guru tidak mampu meningkatkan kompetensi, maka pengetahuannya akan kalah karena peserta didik saat ini cenderung melek teknologi serta bisa dari mana saja mendapat pengetahuan.

”Apabila gurunya kurang paham teknologi akan ketinggalan. Makanya kita sediakan pelatihan, pengembangan dan pembinaan melalui Bimtek workshop, seminar dan lainnya baik di dalam dan di luar,” kata dia.

Edy menyatakan, SMPN 6 Bandung juga terus melakukan berbagai upaya di antaranya ialah supervisi akademis serta supervisi klinis. Dia menyebut, pihaknya memiliki inovasi lain yang berbeda, yaitu supervisi kolaboratif berbasis open lesson untuk meningkatkan kompetensi.

”Bagaimana peran guru tidak hanya transfer of learning atau transfer of knowledge tapi culture, yaitu bagaimana budaya tumbuh di dalam kelas melalui guru-gurunya,” kata dia.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan