oleh

Isu Agama Rentan jadi Alat Politik

NGAMPRAH– Isu agama dan sara kerap dijadikan alat politik dalam setiap pemilihan umum (pemilu) presiden dan legislatif (Pilpres dan Pileg 2019). Oleh karenanya, elite-elite politik di tingkat nasional diminta tidak memainkan agama sebagai alat kampanye. “Menghadapi pemilu nanti kami menyerukan kepada elit politik agar tidak menjual dan mengatasnamakan agama sebagai alat elektoral untuk menaikan pamor atau pencitraan kepada masyarakat, karena hal itu menodai kesucian agama,” tegas Korwil Jabar PP GP Ansor Nuruzzaman baru-baru ini.

Baca Juga:  Bukber Japnas Jabar, Berbagi Kebahagiaan Dengan Anak Yatim Piatu

Dia mengemukakan, di tengah suhu politik yang sedang memanas menjelang Pilpres dan Pileg 2019 seperti sekarang ini, isu agama memang sangat rentan dimainkan. Pihaknya ingin elite politik baik di pusat maupun di daerah menyerukan isu politik yang produktif bukan sebaliknya kontra produktif. Seperti melakukan black campaign yang berbau sara dan menyudutkan agama tertentu.

Nuruzzaman melihat, indikasi itu sangat kentara terlihat pada Pilgub DKI lalu. Isu agama begitu terlihat diproduksi salah satu kandidat untuk menang. Bayangkan sampai muncul adanya spanduk larangan untuk mensalatkan jenasah karena hanya persoalan perbedaan pilihan. Tidak menutup kemungkinan politisasi agama kembali muncul jika para elit tidak mampu menahan egonya. “Elit harus menjaga akhlakul karimah. Gunakan cara-cara santun karena politik bagian dari proses menjaga negara, sehingga harus dilakukan dengan cara-cara yang baik,” tegasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga