Dapat Bekal Latihan Backhand Taufik Hidayat

Sara Penalver Pereira
WAHYUDIN/JAWAPOS
TIDAK PAS: Penalver Rereira tunggal putri dari Spanyol mengalami cidera saat berhadapan dengan tunggal putri dari indonesia, baru-baru ini.
0 Komentar

Kalau memang diizinkan, dia tak akan pikir panjang. Sebab, di matanya, Indonesia adalah salah satu negara dengan perkembangan bad­minton yang paling bagus di dunia.

Apalagi, sebagaimana yang dirasakannya selama bermain di BWF World Junior Cham­pionships 2017, atmosfer bulu tangkis di sini sangatlah hidup. ”Itu yang tidak ada di Spanyol,” bebernya.

Meski Marin telah berpresta­si tinggi, bulu tangkis memang masih tergolong olahraga pinggiran di Negeri Matador itu. Klub tak banyak, kom­petisi juga minim.

Baca Juga:Tidak Mau Kehilangan Muka di Laga PembukaDedi Bantu Modal Ayah Rachel

Karena itu, tiap ada kesem­patan menambah ilmu, para pebulu tangkis Spanyol sela­lu menyambutnya dengan antusias. Misalnya, ketika juara tunggal putra Olimpia­de 2004 Taufik Hidayat ber­kunjung ke Madrid bulan lalu.

Penalver termasuk yang beruntung mendapatkan la­tihan meningkatkan kemam­puan melepaskan backhand dari mantan andalan Indo­nesia tersebut. ”Ilmu seperti itulah yang sulit ditemukan di Spanyol,” ungkapnya.

Penalver mengenal bulu tangkis sejak berusia 6 tahun. Adalah sang kakak, Luis En­rique, yang membuatnya jatuh cinta pada olahraga tepok bulu tersebut.

Menurut dia, saat itu Enrique yang kini menjadi andalan tunggal putra Spanyol sering bermain badminton di hala­man rumah. Kebiasaan itu membuat Penalver kepincut. Sampai akhirnya, dia memu­tuskan ikut berlatih secara serius bersama sang kakak.

Dia mengenang betapa be­ratnya masa-masa awal latihan dulu. Baik secara teknik mau­pun fisik. Tapi, dia tak mau menyerah.

”Semakin besar tantangan, aku semakin suka. Karena itu, aku putuskan bermain bad­minton yang sangat tidak populer di Sapnyol,” tegasnya.

Sejauh ini, keputusannya terbukti tepat. ”Dia berada di jalur yang tepat,” kata Marti­nez.

Baca Juga:Peserta Paket C Ikuti Unas Berbasis ComputerSertifikasi Halal Tetap MUI

Tantangan baginya kini, ba­gaimana mengikuti jejak Ma­rin yang pada usia 21 tahun sudah menjadi juara dunia. Masih ada waktu tiga tahun baginya. Untuk itu, Martinez memastikan bahwa anak bu­ahnya tersebut bakal kem­bali difokuskan ke tunggal putri.

Penalver sudah pasti tak gen­tar dengan beratnya tantangan untuk menapaktilasi sang idola itu. ”Saya ingin mem­buat badminton Spanyol dise­gani,” tegasnya. (*/c5/ttg)

0 Komentar