Untuk membuat satu kain tenun sunda Padaringan dibutuhkan waktu yang lumayan lama. Sedikitnya satu atau dua minggu kain tenun baru bisa diselesaikan. Bahkan, untuk penyelesaiannaya membutuhkan ketelitian ekstra agar motif yang sudah di tentukan susuai dengan sketsa sebelumnya.
Reporter Arief Rahman/Job
Meskipun sudah semakin modern perkembangan dunia fashion di Indonesia, penggiat kerajinan tenun asli dari tatar Sunda ini sampai sekarang masih eksis memproduksi.
Adalah Yudhi Wahyudi, salah satu pengrajin sekaligus penggerak tenun asli sunda asal Majalaya Kabupaten bandung yang masih bertahan ditengah maraknya produk-produk tektil buatan pabrik.
Baca Juga:Disperkimtan Fokus Penyerapan AnggaranSalma Kamila Juara Gadis Krabbani
Dengan membawa Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB) yang terbilang masih sangat sederhana, Tenun Asli dari tatar parahiyangan ini ternyata masih banyka diminati oleh berbagai kalangan. Bahkan, tidak sedikit dari para desainer memesan secara khusus kain tenun tersebut.
“Hasil kain tenun pernah dibawa oleh para desainer ke kancah Internasional karena diminta oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Thailand, Finlandia dan Belanda,”ucap Yudhi
Dengan motif khas kain tenun sunda diberi nama tenun Padaringan, saat ini memiliki pangsa tersendiri. Bahkan, dari berbagai even nasional dan internasional didunia Fashion selalu dibawakan oleh perancang busana muda untuk diperkenalkan lebih luas lagi.
“Alat ini memang sederhana sekali, bahakan sudah tergolong ketinggalan zaman,”ujar Yudhi
Untuk membuat satu kain tenun sunda Padaringan dibutuhkan waktu yang lumayan lama. Sedikitnya satu atau dua minggu kain tenun baru bisa diselesaikan. Bahkan, untuk penyelesaiannaya membutuhkan ketelitian ekstra agar motif yang sudah di tentukan susuai dengan sketsa sebelumnya.
“Jadi tergantung tingkat kesulitan motifnya, kalau motifnya sederhana paling satu mingguan,”kata dia.
Dengan menggunakan alat tradisional ini Tenun Sunda Padaringan hanya bisa menghasilkan kain 4 sampai 5 meter perhari. Namun, untuk kedetilan Alat Tenun manual masih menjadi pilihan bagi para pecinta fashion saat ini.
Baca Juga:Banyak Kasus KDRT di Bandung MandekJadwal Program Kegiatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Bulan Oktober 2017
Dirinya mengatakan sampai saat ini masih ada dua tempat yang masih menggeluti kain tenun asli sunda tersebut, bahkan dia bersama beberapa rekannya telah membuka workshop di Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, dan Kampung Sudi, Desa Ibun, Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung.
