Juga harus bawa ban dalam dan pompa plus multi-tool, walau sepanjang jalan berdoa tidak mengalami masalah teknis. Kalau ban bocor atau ada kerusakan jauh dari pos mekanik, harus bisa menyelesaikannya sendiri.
Kelompok kami memang ditemani tiga guide dari Trek Travel. Tapi, mereka tidak mungkin bisa membantu semua, apalagi dengan rute begitu berat dan peserta mengular seperti tanpa henti.
Kami bersyukur walau hanya 7 orang yang mampu menuntaskan full Maratona (dari 14 orang). Tidak ada yang mengalami masalah teknis. Dan lebih penting lagi, tidak ada yang mengalami kecelakaan. Padahal, berkali-kali ada ambulans naik-turun untuk menjemput dan mengantar peserta yang sakit atau cedera.
Baca Juga:Angkutan Online Diberi Waktu 6 BulanOmset Tahu Sumedang Turun Drastis
Di antara tujuh orang itu, John Boemihardjo dari Surabaya Road Bike Community mampu menjadi finisher terbaik dari Indonesia. Dia mampu menuntaskan full Maratona dalam waktu 6 jam 35 menit. Itu peringkat ke-167 di kelompok umur 35-39, peringkat ke-1.029 overall (dari total 4.759 orang yang menuntaskan rute penuh).
Kelompok kami tidak sendirian dari Indonesia. Kami bertemu pula dengan sejumlah cyclist lain, khususnya dari Jakarta (dan tidak semua mampu menuntaskan rute penuh).
John Boemihardjo hanya berhenti sekali untuk makan dan istirahat, yaitu di puncak Passo Giau alias tanjakan terberat. Kata John, saat menuju puncak Giau, badannya sudah mulai error. ”Saat menanjak, pikiran sudah ke mana-mana, memikirkan istri dan anak,” kata pria 38 tahun itu, lalu disambut tawa rekan-rekan yang lain.
Tidak harus cepat, bisa menuntaskan Maratona dles Dolomites saja sudah sangat melegakan. Termasuk rute medium maupun Sellaronda, yang tetap tidak boleh diremehkan.
Di garis finis, peserta dapat medali. Tapi, mereka juga harus mengembalikan transponder. Sebagai pengganti, panitia memberi pilihan: uang 10 euro atau topi Maratona. Kebanyakan memilih topi sebagai kenang-kenangan karena itu pengalaman yang tidak ada harganya.
Selain rasa haru dan bahagia, di garis finis juga muncul keinginan untuk kelak kembali lagi ke Dolomites, ikut lagi Maratona. Khususnya yang ingin memperbaiki waktu atau belum berhasil lulus rute penuh.
”Kalau yang lulus full rute berarti sudah haji sepeda. Yang belum berarti masih seperti umrah,” canda kami setelah makan-makan di kawasan finis. (*/rie)
