Nikmat-Sengsara Ikut Gran Fondo Terbesar dan Terberat di Dunia

Nikmat-Sengsara Ikut Gran Fondo Terbesar dan Terberat di Dunia
AGUS WAHYUDI / JAWA POS
FINIS CEPAT: John Boemihardjo setelah melewati garis finis Maratona dles Dolomites di Corvara, Alta Badia, Minggu (2/7).
0 Komentar

Panitia benar-benar ”kejam”. Di jalur pemisah rute full dengan medium, misalnya, saklek ditutup pada pukul 11.45. Jalan langsung dipagari. ”Peserta yang ingin tetap memaksa rute panjang dipersilakan, tapi nomor dan transponder yang menempel di sepeda langsung digunting dan diambil,” tutur Yudy Hananta, yang lolos melewati titik itu pas saat cutoff time.

Setiap peserta memang dibekali transponder sehingga bisa melihat catatan waktunya secara overall atau di tiap tanjakan. Dan secara resmi event itu memang sebuah lomba. Jadi, ada pemenang untuk berbagai kategori dan kelompok umur. Walau mayoritas hanya ingin finis serta panitia menyediakan pos-pos makanan dan mekanik di berbagai titik.

Prosesi start dimulai pada pukul 06.30, tapi waktu peserta dihitung saat mereka melewati garis start dan berakhir saat mereka melewati garis finis. Adil. Sebab, untuk start saja, prosesinya mencapai 35 menit. Saking panjangnya peloton peserta.

Baca Juga:Angkutan Online Diberi Waktu 6 BulanOmset Tahu Sumedang Turun Drastis

Support yang komplet itu sangat krusial. Apalagi, cuaca hari itu tergolong kurang bersahabat. Walau ini musim panas, cuaca bisa seperti empat musim dalam satu hari. Saat start, suhu 6 derajat Celsius. Sepanjang hari tidak pernah lebih dari 10 derajat Celsius.

Angin lumayan kencang, awan terus bergerak. Jadi, hujan pun on-off. Ada peserta yang apes kena hujan, ada yang tidak. Semua peserta membawa vest plus jaket angin. Saat menanjak dilepas, saat mau turun dipakai. Saat menanjak kepanasan karena badan bekerja keras, saat turunan dingin luar biasa karena kecepatan dengan mudah menyentuh atau melampaui 70 km per jam.

Agar bisa finis secepat mungkin, kelompok kami punya strategi sendiri-sendiri, menyesuaikan kemampuan masing-masing. Ada yang bilang akan stop di sini, makan di sini, dan lain-lain. Saat acara, semua bisa berubah sesuai dengan kondisi cuaca dan badan kala itu.

Pada dasarnya, kami tidak ingin berhenti terlalu lama. Kalau bisa, berhenti untuk makannya hanya sekali karena ada berhenti-berhenti lain untuk lepas-pasang jaket. Walau ada fasilitas makanan di mana-mana, kami harus tetap self-sufficient, mengantongi makanan semaksimal mungkin di kantong baju atau tas kecil di sepeda.

0 Komentar