Upaya Tim Pentashih Menjaga Alquran dari Kesalahan Tulis  

Selain mentashih mushaf tulisan tangan, tim pentashih mengoreksi naskah dari penerbit. ”Setiap hari tugas pentashih adalah membaca Alquran,” terang Rozi.

Saat ini, kata dia, ada beberapa naskah dari penerbit yang berbeda. Ada naskah dari Penerbit Adhwaul Bayan Depok, Qolam Serambi Jakarta, Penertib Yayasan Al Madina Qurani Bandung, dan naskah lain. Total ada 20 naskah yang sedang diteliti dan dikoreksi.

Sebagian sudah siap diserahkan ke penerbit untuk dicetak. Sebagian lagi masih berada di tangan parapentashihuntuk diteliti secara mendalam. Semua harus ditashih sebelum disebar ke masyarakat.

Proses tashih hampir sama dengan mushaf baru. Namun, waktu yang dibutuhkan lebih cepat. ”Berputar tiga kali,” tutur Rozi.

Jadi, setiap orang bisa meneliti 9 juz. Harus tetap teliti dan cermat. Kadang adapentashihyang sudah membaca semua lembar ayat dalam bundel naskah yang belum dicetak itu dan tak menemukan kesalahan. Namun, ketika naskah itu dibaca orang lain, ternyata ditemukan kesalahan.

Pentashih yang sudah membaca harus menuliskan nama atau tanda tangan di kertas kuning yang ditempelkan dalam naskah tersebut. Misalnya, yang dilakukan Rozi setelah membaca naskah milik Penerbit Adhwaul Bayan. Dia menuliskan namanya di kertas kuning. ”Ini tanda kalau saya sudah baca naskah ini,” jelas ayah enam anak tersebut.

Alumnus Ponpes Tebuireng, Jombang, itu mengungkapkan, naskah dari penerbit umumnya hanya dibaca sekitar tiga putaran. Dalam sebulan, pentashih sudah merampungkan proses koreksi dan siap menyerahkannya ke penerbit.

LPMQ pun memberikan tanda tashih pada naskah tersebut. Namun, untuk koreksi Alquran yang disertai terjemah, tajwid, dan transliterasi atau ditulis dengan huruf latin, pentashih membutuhkan waktu lebih lama. Bisa dua sampai tiga bulan. ”Mushaf di Indonesia kan sangat beragam. Orang Indonesia sangat kreatif dalam penerbitan Alquran,” tutur suami Lailatul Zahra itu.

Selain mengoreksi mushaf Alquran biasa, lajnah melakukan tashih terhadap Alquran digital. Sejak 2015, ada beberapa penerbit yang mengajukan tashih. Ada 4 Alquran digital yang sudah ditashih. Saat ini tim pentashih menangani satu naskah digital.

Proses tashih tidak jauh berbeda dengan naskah manual. Penerbit harus menyerahkan bentuk digital dan bentuk print-out. Jadi, pentashih akan meneliti dan mencocokkan versi digital dengan print-out. ”Koreksinya ya di naskah yang print-out,” katanya. Setelah selesai tashih, penerbit diminta memperbaiki sesuai dengan hasil koreksi di print-out.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan