Komentar juga disampaikan oleh Social Analyst dari Indonesia Strategic Institute (Instrat), Adi Onggoboyo memberikan penilaian menarik. ”Sangat menarik, berdasarkan hasil survei Median, elektabilitas Ridwan Kamil justru naik setelah sejumlah isu negatif ditembakkan kepadanya dengan tujuan agar elektabilitasnya terus turun, hasil survei Median justru menunjukkan elektabilitas Ridwan Kamil naik.
Abu memaparkan, pascadeklarasi Partai Nasdem untuk mendukung Ridwan Kamil, di media sosial muncul reaksi prokontra. Pada titik paling luar yang kontra, deklarasi Partai Nasdem sebagai partai pengusung dijadikan tonggak indikator untuk memastikan bahwa Ridwan Kamil berada pada gerbong yang sama dengan penista agama pada kasus Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Sebagian kalangan membombardirnya dengan berbagai tuduhan sebagai upaya penggerusan massif agar potensi elektabilitas Ridwan Kamil turun dan berakhir pada tidak memilihnya saat pencoblosan Pilgub 2018 nanti.
Baca Juga:Fans Selangor FC Inginkan FebriDuel Sengit dengan Vettel, Hamilton Menangi Balapan GP Spanyol
Melihat data terbaru dari Median, lanjut Abu, muncul pertanyaan, jika memang masyarakat Jawa Barat menyetujui pandangan bahwa Ridwan Kami tersebut, mengapa potensi elektabilitasnya tidak turun cukup drastis? Yang terlihat justru tiga kandidat unggulan teratas (Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi) secara kuantitas potensi elektabilitasnya sejak November 2016 sampai dengan tengah Mei 2017 ini relatif tidak berubah.
”Muncul dugaan bahwa isu deklarasi Partai Nasdem yang bakal direspon negatif publik belum cukup bisa terbukti berdasarkan data, setidaknya sampai saat ini,” kata Abu.(rls/rie)
