Periksa Semua Instrukstur dalam Insiden Saka Bahari

Periksa Semua Instrukstur dalam Insiden Saka Bahari
HADIRI PEMAKAMAN: Sejumlah teman sebaya dari SMK 1 Pasundan saat menghadiri pemakaman korban, kemarin.
0 Komentar

Dia menegaskan, jika kela­laian itu terbukti dilakukan oleh pihak instruktur, pihaknya akan memberikan sanksi or­ganisasi. Termasuk menyera­hkannya kepada penegak hukum yang sedang melaku­kan proses pemeriksaan.

”Tapi saya yakin dari hati sanubarinya, instruktur itu tidak berniat seperti itu. Oleh karenanya, kami akan tetap melakukan pendampingan dengan menurunkan advo­kasi hukum kepramukaan,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi Deden me­negaskan, setelah kejadian pihaknya langsung melakukan evaluasi dengan melibatkan pimpinan cabang, kasi kepramu­kaan di-leading sektor Dis­popar. ”Termasuk evaluasi, apakah Saka Bahari ini akan dilanjutkan di Kabupaten Bandung atau tidak,” ucapnya.

Baca Juga:Persib Fokus Perbaiki Lini PertahananKelulusan SNM PTN Diumumkan Siang Ini

Deden mengakui, pihaknya sampai saat ini belum mela­porkan ke tingkat Kwarda dan Kwarnas. Sebab, Kwarcab ma­sih menunggu laporan dari panitia pelaksana yang memang lebih dulu melaporkan insiden tersebut kepada Kwartir cabang tingkat Kabupaten.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bandung AKP Firman Taufik mengungkapkan, pihak Polres Pangalengan masih melakukan pemeriksaan ter­hadap 12 instruktur atau pani­tia penyelenggara kegiatan tersebut. Setelah selesai peme­riksaan di Polsek, akan dilim­pahkan ke Polres Bandung. Termasuk akan langsung memberikan surat undangan kepada para peserta yang mengikuti untuk mendalami kasus ini.

”Selain kepada peserta kami pun berencana akan memin­ta keterangan dari kwarcab Kabupaten Bandung. Sebab, Saka Bahari posisinya di bawah Kwarcab Pramuka Kabupaten Bandung,” urainya.

Sedangkan hasil identifikasi korban, lanjut Firman, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Namun, ada bekas luka di keningnya, tapi itu luka baru yang diduga terkena kawat ja­ring waktu pencarian korban. Dia memerinci, dari rekaman video, kronologis berawal saat kedua tim laki-laki dan perem­puan hendak mengambil pang­kat nama siswa.

Gelombang pertama, dilaku­kan oleh tim putra sebanyak 34 orang, selama dua atau tiga menit masuk ke air untuk mengambil pangkat nama. Setelah itu, dilanjutkan oleh tim putri sebanyak 30 orang.

”Namun baru satu menit salah seorang peserta ada yang berteriak meminta tolong. Para panitia melakukan penyelamatan dan evakuasi seluruh peserta tim putri un­tuk hendak naik ke darat,” urainya. Dari hasil olah TKP, kedalaman air setinggi 80 sentimeter. Untuk menga­wasi para siswa, saat kegiatan itu dan ada dua perahu yang dikendarai panitia. Perahu tersebut juga sebagai pemba­tas kedalaman air. (yul/rie)

0 Komentar