Seharian Bandung Raya Diguyur Hujan, Langsung Longsor-Banjir

bandungekspres.co.id, BANDUNG – Akibat hujan terus menerus sejak Kamis (9/2) pagi, sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung mengalami longsor dan banjir. Kendati demikian, tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut.

Bencana longsor diketahui di Kampung Dasar, Desa Sukaresmi Kecamatan Rancabali. Sedangkan banjir, menggenang tiga kecamatan: Dayeuhkolot, Baleendah dan Pamempeuk. Total ada 800 rumah terendam. Camat Rancabali, Karyadi Raharjo mengatakan, longsor terjadi sejak pukul 13.00. Material longsoran sepanjang 20 meter, lebar sekitar 10 meter dan ketinggian sekitar 1 meter itu menutupi jalan nasional yang menghubungkan tiga wilayah. Di antaranya Kabupaten Bandung, Garut dan Cianjur.

”Saat ini kami masih melakukan pembersihan jalan, dengan menggunakan alat berat milik PU Bina Marga Kabupaten Bandung,” kata Karyadi kemarin malam (9/2).

Meski longsoran cukup parah, lanjut Karyadi, namun tidak mengakibatkan korban jiwa. Sebab, material longsoran tidak sampai mengenai rumah. ”Ini jalan perkebunan dan longsoran hanya menutupi jalan saja,” ucapnya. ”Pengerjaan ini hanya baru seperempatnya,” tambahnya.

Karyadi mengungkapkan, longsoran ini mengakibatkan kemacetan yang cukup parah hingga beberapa kilometer. Dampaknya, kendaraan sebagian ke jalan pemukiman warga dan sebagian lagi mengantre. ”Meskipun jalan dialihkan, namun jalan warga itu sangat tak layak untuk dilalui, karena jalannya rusak dan hanya bisa untuk satu kendaraan,” ungkapnya.

Karyadi menegaskan, di wilayah ini kerap terjadi longsor. Makanya, dia mengimbau masyarakat lebih waspada. ”Kontur tanah di wilyah Rancabali ini sangat labil. Ditambah hujan terus menerus, akhirnya jadi rawan longsor,” ungkapnya.

Dia menilai, wajar di wilayah tersebut rawan longsor. Hal ini terjadi karena alih fungsi lahan besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

Dia memerinci, banyak lahan yang berubah fungsi dari hutan menjadi kebun yang ditanami sayuran oleh masyarakat. Padahal, itu sebenarnya wilayah perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. ”Namun sebagian masyarakat pun menanaminya dengan sayur mayur, tapi penyangganya sangat kurang sehingga terjadi longsoran,” urainya.

Sementar itu, Kepala Desa Dayeuhkolot Yayan Setiayana menyatakan, sejumlah kampung di Desa Dayeuhkolot mulai terendam banjir sejak pukul 11.00 siang. Rinciannya, RW 02, 03, 04, 14, 05 dan 08 dengan ketinggian selutut orang dewasa atau sekira 40 sentimeter.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan