Menurut Eddie, perupa Swiss awalnya agak menganggap remeh. Baru setelah ada pelukis dan seniman negara itu yang datang ke Indonesia dan mencari tahu tentang kesenian lokal, mereka akhirnya tahu kiprah Eddie.
”Wah Eddie, ternyata kamu terkenal. Di sejarah seni rupa Indonesia, namamu selalu ditulis.” Begitu ucapan para seniman Swiss kepada Eddie.
Menurut Eddie, belum banyak seniman Indonesia yang memiliki pergaulan internasional. Terutama di kota-kota yang tidak memiliki banyak aktivitas kesenian, termasuk Surabaya dan Semarang. ”Di dua kota itu, pergaulan seni internasionalnya kurang,” ucapnya. ”Inilah yang harus dijebol sendiri oleh senimannya,” tambahnya.
Baca Juga:Keterlibatan BUMD Lebih LuasKBB Kembali Tercoreng
Suka bergaul dengan musisi rock dan punk menjadi salah satu cara Eddie menghadapi perubahan. Dia menyatakan, meski dalam pergaulan itu dirinya paling tua, ”Tapi, saya ternyata masih bisa menangkap bahasa mereka, mengekspresikan apa yang mereka ekspresikan,” ucap Eddie yang ingin bisa backpacking ke Amerika Latin dan Afrika berdua saja dengan sang istri.
Lain Eddie, lain pula Naufal Abshar, 24. Bila Eddie sudah malang melintang puluhan tahun berkiprah di dunia seni rupa, pergaulan Naufal sebagai seniman masih tergolong seumur jagung. Dia baru dua tahun terjun sebagai pelukis. Hebatnya, karya lulusan Lasalle College of Arts Singapura itu mulai diperhitungkan. Bahkan masuk seleksi dan ikut dipamerkan di Art Stage Singapore 2017.
”Sebetulnya saya sudah dari dulu menggambar dan melukis. Tapi, memutuskan untuk full jadi artist baru dua tahun ini,” ungkap pemuda asal Jakarta tersebut.
Karya-karya Naufal dipamerkan lewat galeri Singapura, Art Porters’. Dia terinspirasi mainan Lego ketika membuat dua karyanya, akrilik di atas kanvas dan mixed media berjudul Hobby & Career = Happiness dan The Hardworking Donkey.
Naufal membuatnya dalam potongan kanvas yang terpisah, lalu disatukan. Tiap potongan bisa berdiri sendiri. ”Kalau nggak digabung begini, ini bisa menjadi lukisan sendiri,” jelasnya.
Itu menjadi menarik karena akan menumbuhkan perspektif berbeda pada setiap orang. ”Itulah seni. Setiap orang tidak akan sama pandangannya meski sama-sama melihat karya saya ini,” katanya.
