Literasi Wajib Diterapkan

Kendati begitu, pengadaan buku bagi keluarga kurang mampu bukan menjadi  kebutuhan pokok sehingga kondisi ini dibutuhkan peran pemerintah bahkan lintas sektoral untuk membantu mendirikan taman-taman bacaan di tengah masyarakat.

”Disdik Jabar  dan Badan Perpustakaan dan Kearsipan daerah diharapkan hadir dengan memperbaiki keberadaan perpustakaan sekolah, perpustakaan  keliling da sebagainya agar keberadaan buku buku banyak diminati oleh anak-anak,” papar Netty.

Di tempat sama, Wakil Gubernur Deddy Mizwar menuturkan, di era penuh kompentensi ini, dibutuhkan generasi-generasi tangguh dalam menghadapi persaingan.

Dengan literasi, kata dia, diharapkan bisa membuka cakrawala pengetahuan. Sebab memperoleh informasi melalui buku-buku yang dibaca dari rata-rata kesempatan sekolah masih rendah. Yaitu baru mencapai 7 sampai 12 tahun.

Dirinya menyebutkan, budaya literasi di Indonesia pada 2015 baru menempati urutan ke-64 dari 72 negara yang diteliti oleh Unescco. Bahkan dari 1.000 warga negara Indonesia hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi.

Selain itu, berdasarkan penilitian lainnya dari 88 juta jiwa usia anak anak dan remaja di Indonesia yang terkoneksi internet 40 persennya hanya digunakan untuk main game dan hanya 2 persen saja yang mengakses sumber-sumber informasi.

”Jadi media literasi yang sekarang di-launching hari ini (kemarin, Red) meupakan wujud keinsafan dalam bentuk mempersiapkan dalam persaingan global dengan membudayakan minat baca,” tandasnya.

Deddy menuturkan, kegiatan ini diawali dengan membentuk komunitas membaca di luar jam pelajaran secara berkelompok. Yaitu 2 sampai 8 kelompok siswa dengan bimbingan para guru.

”Dan budaya literasi ini sebetulnya sudah dirintis sejak 2012 oleh guru-guru asal Jabar yang merupakan alumni peserta latihan di Adele Australia,” tandasnya lagi. (yan/rie)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan