Belum Mencapai Tataran Lokal, Sepakat Terapkan Kurikulum Bandung Masagi

bandungekspres.co.id, BATUNUNGGAL – Lima orang pakar sepakat menerapkan kurikulum Bandung Masagi di Kota Bandung. Mereka meyakini kurikulum Bandung Masagi ini akan bisa mewakili Jawa Barat, bahkan Indonesia. Hal tersebut terpapar dalam Focus Group Discussion (FGD) Bandung Masagi bertemakan Model Pendidikan Karakter Kota Bandung di Hotel Newton, kemarin.

Akan tetapi terdapat beberapa catatan terkait penetapan itu. Menurut Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi, perlu adanya buku panduan untuk implementasi karakter. Selama ini, dengan adanya Rebo nyunda masih hanya sekedar cangkang. ’’Rebo nyunda yang diterapkan belum mencakup kepada akarnya. Bahkan masih sekedar penampilan saja seperti menggunakan baju kebaya dan iket,’’ kata Didi kepada Bandung Ekspres, usai kegiatan FGD.

Kebudayaan Sunda lebih dari sekedar kebaya dan iket, karena miliki karakter yang santun dan ramah. Dia mengatakan, berdasarkan misi dan visi dari kurikulum Bandung Masagi, belum relevan dengan program yang ada. Serta harus mempertegas etos dan nilai yang diharapkan dari Bandung Masagi. Kurikulum Bandung Masagi, masih bertumpu pada kesenian. Padahal ada bahasa yang mengangkat dan menjadikan ciri khas dari budaya Sunda.

Selain itu, pihaknya berharap selain dari pekerja pendidikan para pekerja media juga harus bisa menjaga keteguhan dari karakter. ’’Kadang-kadang, para pekerja pendidikan menjaga karakter bangsa dengan mudahnya media merusak karakter tersebut,’’ ungkapnya seraya menambahkan banyak tontonan amoral di internet, padahal media dianggap salah satu penjaga dari karakter yang dibangun.

Di tempat sama, Pabandya Intel Kodam III/Siliwangi Letkol Tugiman, mengatakan, kalau normal itu diterapkan berkesinambungan di masyarakat perlu diadakan regulasi. ’’Selama ini dari peraturan yang pernah dibuat hanya sebagai slogan dan mengimplementasikannya dengan baik,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan, dengan karakter pendidikan yang pernah dibuat saat ini belum mencapai pada tataran lokal. Hanya sebatas pada tataran nasional saja. Pihaknya menekankan, harus ada lebih spesifik dari pembuatan karakter tersebut.

Salah satu peserta yang ada, dari Pokja Inklusif, Muftiah mengatakan, hal ini bisa menjadi cermin, pendidikan bukan hal yang harus disamaratakan. Akan tetapi, anak-anak memiliki kecerdasan yang berbeda setiap anaknya. ’’Kita sangat setuju dan untuk anak inklusif hal ini akan lebih mudah,’’ imbuhnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan