Berbicara tentang pilihannya memperkuat timnas Aljazair, Mahrez merasa tidak ada yang salah. Ayahnya yang berdarah Aljazair. Ibundanya Maroko. Dalam sebuah wawancaranya dengan The Guardian, dia dengan tegas menyebut bukan kebanggaan membela Les Bleus – sebutan timnas Prancis – yang dicarinya.
Melainkan kata hatinya sendiri. ’’Saya hanya menganggap Prancis sebagai tempatku lahir dan berkembang. Sementara, hatiku lebih berasa Aljazair,’’ tegasnya. Mahrez memulai debutnya bersama Aljzair pada November lalu.
Sebagai orang yang memberinya kepercayaan membela Aljazair di Piala Dunia 2014 silam, Vahid Halilhodzic menilai Mahrez sudah sangat mewakili karakter pemain Aljazair. ’’Dia pemain yang tidak mengenal takut, dan selalu memberikan atmosfer bagus di setiap laga,’’ pujinya, dikutip dari Goal.
Baca Juga:Kudeta Capolista, Nyonya Tua Pamer Spirit JuaraLaga Fantastis, Berakhir Dramatis
Dengan sedikit bercanda, pelatih berkebangsaan Serbia itu menilai Mahrez layak mendapatkan penghormatan yang lebih dari pemerintah Aljazair. ’’Kalau perlu Mahrez layak dibuatkan patung supaya dia tidak pernah meninggalkan timnas Aljazair,’’ tegasnya. (ren/vil)
