Sebagaimana diwartakan sebelumnya, dalam pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan manajemen bank BUMN beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi secara tegas meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. ”Entah jurusnya seperti apa, pasti akan saya cari, pasti akan saya paksa,” tegasnya.
Menurut Jokowi, di era kompetisi yang kian ketat saat ini, tingginya suku bunga bank bakal menggembosi daya saing pelaku usaha di Indonesia saat harus berhadapan dengan pelaku usaha negara lain. Apalagi, seiring berlakunya skema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena itu, agar bisa bersaing, perbankan di Indonesia harus bisa mengejar suku bunga yang diterapkan di negara-negara lain. ”Kalau di negara lain bunga banknya 4 persen, 5 persen, 6 persen, kita juga harus bisa segitu,” katanya.
Lantas, berapa rata-rata suku bunga kredit di Indonesia? Menurut Wijayanto, angkanya memang jauh di atas rata-rata negara lain, yakni mencapai 11,2 persen. Sementara itu, di Thailand 7,1 persen; Filipina 5,85 persen; Singapura 5,35 persen; dan Malaysia 4,53 persen. ”Rata-rata di ASEAN sebesar 6,81 persen,” sebutnya.
Baca Juga:Gladiator Roma Ancam MadridKarena Bonggol Jagung pun Bisa Jadi Kerajinan
Wijayanto mengungkapkan beberapa langkah yang akan diambil pemerintah. Di antaranya, mengurangi oligopoli perbankan dengan memberikan insentif bagi pengembangan pasar obligasi dan pasar saham agar pelaku usaha tidak terlalu bergantung pada kredit perbankan.
Langkah lainnya adalah melakukan intervensi dengan menekan suku bunga kredit mikro melalui subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR) 9 persen serta mendorong manajemen bank BUMN agar mengubah mindset bahwa profit yang besar bukan satu-satunya indikator sukses. ”Seperti sering dikatakan Pak JK, tidak penting bagi bank BUMN mengejar untung triliunan rupiah kalau dicapai dengan membebankan bunga 20 persen kepada rakyat kecil,” ujarnya.
Makroekonomi
Sementara itu, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat mengungkapkan bahwa suku bunga acuan (BI rate) tidak terlepas dari kondisi makroekonomi dalam negeri. ”Semuanya bergantung data ekonomi dan keputusan yang diambil di rapat dewan gubernur (RDB) bulanan,” ujarnya kepada Jawa Pos (induk Bandung Ekspres) kemarin (8/2).
Arbonas menuturkan bahwa indikator-indikator makroekonomi seperti capaian inflasi maupun pertumbuhan ekonomi akan menentukan naik turunnya suku bunga. BI sebagai otoritas makroprudensial mengambil keputusan berdasar data dependent seputar kondisi ekonomi.
