Hilangkan Sekat Antara Tionghoa dan Pribumi

Masjid Lautze II
AMRI RACHMAN DZULFIKRI/BANDUNG EKSPRES
BERSEJARAH: Pejalan kaki berteduh di depan Mesid Lautze 2 Jalan Tamblong Kota Bandung, Selasa (9/2). Masjid ini dibangun sebagai tempat belajar Islam warga Tionghoa
0 Komentar

Masjid Lautze di Jakarta dan di Bandung dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei. Sementara, Hj Karim Oei merupakan pendiri dari masjid Lautze sekaligus menjadi sahabat Buya Hamka dan Bung Karno. Foto ketiganya ikut dipajang di masjid itu sebagai bukti sejarah.

Masjid ini berdiri di antara deretan pertokoan dengan ukuran 7×6 meter. Seluruh temboknya hampir berwarna merah, di bangun oleh arsitek lulusan ITB bernama Umar Widagdo.

”Sampai hari ini, di Bandung ada sekitar 150 orang Tionghoa yang menjadi mualaf,” katanya.

Baca Juga:Mendikbud Sosialisasi Integritas UnasButuh Pekerja yang Tak Hanya Pandai Menuntut

Pembinaan mualaf Tionghoa di Masjid Lautze sendiri sekitar 3 bulan. Hal tersebut bermaksud untuk meneguhkan keimanan mereka terhadap Islam. Setelah itu baru dilepas dan berbaur dengan masyarakat.

Seiring dengan berjalannya waktu, Masjid Lautze dan masyarakat Tionghoa saat ini cukup berbaur dengan masyarakat sekitar. Bahkan, ada banyak program untuk masyakat sekitar, di anataranya kursus Bahasa Mandarin, kursus Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa).

Program lainnya yang tak kalah menarik yakni Khalifah Singer dan Lautze Publishing. Khalifah Singer merupakan kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yang memfokuskan diri mencetak buku-buku Islam dan Tionghoa. (nit/fik)

0 Komentar