Dalam gelar perkara dengan kejaksaan kemarin, memang fokusnya adalah memperbanyak bukti-bukti yang didapat melalui scientific investigation. Menurut sumber tersebut, penyelidikan tetap mengarah kepada Jessica Kumala Wongso. Sebab, dari sejumlah bukti yang ada, semuanya mengarah kepada perempuan 27 tahun itu. ”Sebenarnya, rangkaian kronologi sudah menunjukkan hal itu dengan gamblang,” ujarnya.
Pada gelar kasus kemarin, ada dua fakta yang sangat sulit dielakkan. Fakta pertama adalah Mirna diracun. Hal tersebut sudah jelas dibuktikan dari uji forensik yang menemukan sianida yang sama di organ tubuh Mirna dan kopi yang ditenggak korban. ”Juga tak ada kopi pelanggan lain yang disajikan hampir bersamaan yang punya jejak sianida,” tambahnya.
Fakta kedua adalah waktu peracunan. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa pemberian racun pada kopi sangat pendek, sekitar 20 menit. Yakni antara ketika kopi itu sudah disajikan pelayan kafe dan kopi tersebut diseruput Mirna. ”Dalam rentang waktu itu hanya ada Jessica,” sebut sumber itu.
Baca Juga:TITI KAMAL Tunggu Waktu TepatTak Bergairah Sambut Derby d’Italia
Jessica juga yang aktif memesan hingga membayar semua menu. Semua aktivitas Jessica tersebut terekam di CCTV. ”Memang tak ada rekaman yang menunjukkan Jessica jelas-jelas menuangkan racun. Hanya, ada banyak momen ketika tangan Jessica tak terlihat gara-gara tertutup tas,” terangnya.
Bukti-bukti penunjang lainnya adalah Jessica punya latar belakang pengetahuan yang cukup tentang bahan kimia. Termasuk sianida. Dari koordinasi dengan Australia Federal Police (AFP), Jessica memang pernah bekerja di sebuah perusahaan kimia di Australia. ”Kami sudah mengirim permintaan agar AFP mengecek apakah perusahaannya pernah punya catatan kehilangan sianida. Kami belum dapat jawaban,” tambahnya.
Diketahui pula komunikasi dalam WhatsApp dengan Mirna yang mengindikasikan Jessica aktif bertanya soal TKP. Mulai apakah di GI ada klinik (dengan alasan mau beli vitamin) serta ajakan-ajakan ke kafe. ”Tapi, sekali lagi ini mengarah lho ya. Belum sikap resmi,” ucapnya. Pertanyaan soal klinik itu diduga disampaikan untuk memastikan korban tidak mendapat pengobatan cepat sehingga bisa cepat dipastikan tewas.
Di bagian lain, ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan bahwa sudah benar sikap polisi tidak memburu pengakuan tersangka. ”Utamakan pembuktian secara ilmiah saja,” tuturnya.
