Repotnya Sepak Bola di Tengah Kepungan Asap

SEPAK BOLA ASAP -
SYAMSUDIN/RADAR PANGKALAN BUN
TANGGUH: Tim kesebelasan Borneo FC melawan Putra Abah berlaga di Lapangan Sampuraga Pangkalan Bun, Kamis (22/10).
0 Komentar

Sekretaris Daerah Masradin, yang mewakili Bupati Kobar Bambang Purwanto, saat membuka turnamen juga menyarankan para pemain menggunakan masker. Tapi, dia mengakui, mungkin memang agak lucu kalau pemain merumput dengan bermasker.

Mungkin tidak cuma lucu, tapi juga menyulitkan. Bukan hanya pernapasan yang terhalang. Komunikasi antar pemain pun bakal terganggu. Bayangkan, misalnya, ada pemain yang meneriakkan umpan, umpan. Karena mulutnya terhalang masker, bisa jadi rekannya yang diteriaki malah mendongak ke atas. Sebab, dia mengira si kawan meneriakkan hujan, hujan.

Kapten Putra Abah Agus Robi mengakui tingginya kesulitan bermain di tengah kepungan asap itu. Secara kesehatan, ungkap Agus, dirinya dan rekan-rekan setim memang belum terlalu terganggu. Tapi, asap jelas mengurangi jarak pandang. Otomatis, pemain, baik yang dalam posisi bertahan maupun menyerang, tak mudah mengontrol bola yang ditendang kawan maupun lawan. Kesulitan berlipat sudah pasti pula dirasakan penjaga gawang. ”Sangat tidak nyaman bermain di tengah asap,” kata Agus.

Baca Juga:Laga Pelipur Kekecewaan BobotohOperasi Kemanusiaan Laiknya Operasi Militer

Karena itu, bicara taktik secara rigid pun jadi kurang relevan. Bisa dibilang, fisik yang paling menentukan. Tim yang para pemainnya bisa konstan menjaga stamina di tengah kadar oksigen yang menurunlah yang akan menang.

Itu pula kunci kemenangan Borneo FC yang Kamis lalu menghajar Putra Abah 3-0. Dardi, sang pelatih, menjelaskan, menjelang turnamen, dia meminta pemain menjalani pola hidup sehat. Mulai makanan yang harus dijaga, tidur yang teratur, sampai aktivitas di luar rumah yang harus dibatasi, terutama sehari sebelum bertanding. Hasilnya, Borneo memang tampil dominan.

”Setelah melawan Putra Abah, para pemain kami juga masih fit semua. Kalaupun ada yang mengeluh, paling soal pandangan mata yang tidak jelas atau kualitas lapangan yang buruk,” terangnya.

Memang tidak semua bagian Lapangan Sampuraga ditumbuhi rumput. Itu juga yang membuat perjuangan pemain menjadi lebih berat. Sebab, bagian lapangan yang gundul menimbulkan debu. Belum lagi ancaman cedera kalau sampai terjatuh di sana. Dan perjuangan berat itu masih harus dijalani para pemain yang timnya lolos hingga final pada 20 November nanti. Belum tentu hujan sudah mengguyur Pangkalan Bun ketika laga puncak tersebut dihelat.

0 Komentar