Menapak usia 12 tahun, Tan memperluas kemampuan seni musiknya dengan mempelajari kecapi khas Sunda. ’’Kecapi itu ada di mana-mana. Di Jepang, Tiongkok, India, dan lainnya. Tetapi, kecapi Sunda sangat unik,’’ tuturnya.
Tan tidak hanya jago memainkan alat musik tradisional Sunda. Tetapi, juga hebat memainkan alat musik modern seperti gitar. Bahkan, sejak usia sebelas tahun, dia dijuluki sebagai ’’anak ajaib’’ karena kelihaiannya memetik gitar.
Sebagai keturunan Tionghoa, Tan tidak merasa aneh atau sungkan belajar dan memainkan musik Sunda. Bahkan, dalam perjalanan waktu, keterampilannya bermain musik Sunda mengalahkan orang asli Sunda.
Baca Juga:Bidik Menkeu-Men-BUMNKonsumsi Obat Ilegal Ganggu Otot Syaraf
Seniman-seniman kondang Sunda seperti sinden Upit Sarimanah, Titim Fatimah, dalang beken Asep Sunandar Sunarya dan Ade Kosasih Sunarya pernah berguru kepada Tan. Bahkan, para seniman itu sudah berhubungan dengan Tan sebelum berjaya di belantara musik Sunda.
Kecintaan Tan terhadap kesenian Indonesia, khususnya Sunda, didasari rasa beryukur karena lahir di satu titik yang bernama Bandung. ’’Saya tidak bisa menyuruh Allah supaya saya dilahirkan di Amerika, Inggris, atau Jepang dan Tiongkok sana,’’ katanya agak filosifis.
Tan mengakui, secara fisik dirinya adalah keturunan Tionghoa. Tetapi, dia merasa bertanggung jawab untuk melestarikan kesenian lokal tempat dirinya dilahirkan. ’’Saya minum air tanah Sunda. Makan padi dari sawah di Sunda. Jadi, saya harus melestarikan kebudayaan Sunda,’’ tuturnya. Tan meyakini bahwa kepunahan manusia ditandai dari hilangnya kebudayaan.
Perjalanannya di dunia seni Sunda tidak sebatas pada kelihaian bermain alat-alat musik seperti seruling, kecapi, dan sejenisnya. Namun, Tan juga aktif melakukan rekaman-rekaman kesenian Sunda. Dengan ketelatenan dan keteguhan merekam secara individu itu, Tan lantas dijuluki sebagai bapak rekaman musik indie.
Pada akhir 1950-an, Tan pernah merekam kesenian buhun, yakni kesenian dengan memainkan alat musik seperti kecapi. Alat rekaman portabel miliknya harus ditenteng ke lokasi pergelaran kesenian buhun. Bahkan, tidak jarang dia harus jalan kaki naik bukit, bahkan gunung, untuk mengejar pergelaran kesenian buhun.
Kesenian buhun yang dimainkan sambil bersila itu sekarang hampir punah di Bandung. Saat itu Tan merekam dan menyimpannya dalam kaset pita. Dia mengaku tidak berniat menjual rekaman kesenian buhun tersebut. Kalaupun itu dijual, dia yakin tidak akan ada industri rekaman yang tertarik.
