oleh

KPAI Telusuri Akun Jual Bayi

[tie_list type=”minus”]Pihak Yayasan Kooperatif saat Diperiksa[/tie_list]

JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam jual beli anak di media sosial Instagram dengan akun @jualbayimurah. Pasalnya, aku yang memasang enam foto bayi itu mencatut alamat sebuah panti asuhan. Yakni, Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Parartasih yang juga satu kompleks dengan Sekolah Katolik Santa Maria.

Berita Jual Bayi
ISTIMEWACATUT NAMA: Lokasi alamat yang tercantum di akun @jualbayimurah ternyata tertuju pada Panti Sosial khusus remaja yang broken home.

KPAI berharap, kepolisian segera menindak pemilik akun Instagram tersebut.’’Kami telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak kasus ini. Karena dampaknya luas, ini menyangkut alamat orang lain dan mencemarkan nama baik juga,’’ ujar salah satu Komisioner KPAI Susanto kepada wartawan kemarin.

Pencemaran nama baik yang dimaksudkan KPAI diperkuat dengan keterangan pihak panti. Mereka menyatakan tidak terlibat dengan jual beli bayi pada akun tersebut. Mereka hanya menampung siswi SMP yang bersekolah di Santa Maria. Oleh karena itu, KPAI berharap kepolisian dapat segera mengusut pembuat akun tersebut.

’’Kepolisian punya alat peretas yang canggih. Akan mudah menelusuri pembuat akun itu. Kalau tidak ada tindakan cepat, akan lambat juga terungkap motifnya. Entah iseng atau pencemaran nama baik,’’ jelas Susanto.

Berdasarkan data yang dimilikinya, angka perdagangan anak di Indonesia semakin meningkat tiap tahun. Sehingga, kehadiran akun @jualbayimurah itu sangat meresahkan masyarakat. ’’Lima tahun terakhir tercatat 860 kasus. Kalau tahun ini sampai tengah tahun 80 kasus,’’ pungkas Susanto.

Sementara itu, Kementerian Sosial mengecek kebenaran informasi tentang adanya akun jual-beli bayi murah di Instagram. Pengecekan ini dilakukan guna memastikan apakah benar terjadi penjualan bayi di alamat yang dicantumkan di akun @jualbayimurah.

Ketua Tim Reaksi Cepat Kementerian Sosial Farid Afriandi mengatakan, pengecekan laporan masyarakat ini penting karena kasus yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak sedang ramai. ’’Angka kekerasan anak sedang ramai, makanya kami segera cek,’’ kata Farid belum lama ini.

Ketika didatangi awak media pun, pihak Yayasan Gembala Anak yang juga panti asuhan sangat terbuka. Ketua Satuan Tugas Perlindungan Anak Kementerian Sosial Muhammad Ihsan mengapresiasi pihak yayasan yang kooperatif dan membuka diri. ’’Mereka menyatakan bahwa mereka adalah panti bina remaja dan hanya menerima remaja,’’ katanya. Artinya, tak ada bayi di tempat ini.

Selain itu, panti ini hanya ditinggali sekitar sepuluh anak setiap tahun. Mereka biasanya meninggalkan panti jika sudah lulus sekolah menengah pertama.

Selanjutnya, Kementerian Sosial meminta kepolisian bisa menangani persoalan ini, karena informasi yang beredar di media sosial itu bohong. ’’Kami mendorong polisi untuk membuktikan. Jangan sampai masyarakat yang sudah sigap melapor tercederai oleh oknum yang melaporkan berita hoax,’’ kata Ihsan.

Afrida, salah satu suster di Yayasan Gembala Anak mengatakan, Panti Parartasih sudah berdiri sejak lama. ’’Ini dari tahun 1930-an dan hanya ditujukan untuk remaja,’’ kata Suster Afrida.

Dia mengatakan, anak-anak yang dirawat di panti itu adalah anak yang diserahkan langsung oleh orang tuanya. ’’Mereka berasal dari keluarga broken home,’’ katanya. Saat ini ada sepuluh anak yang tinggal di yayasan. Tahun ini, kata Afrida, panti sosial ini akan kedatangan sebelas anak lain pada tahun ajaran baru.

Afrida menjelaskan, panti ini pun berizin. Surat izin nomor LKS/010/AKRE/2014 milik panti ini berlaku tiga tahun sejak 1 Juli 2014 sampai 30 Juni 2017. Panti ini pun mendapat akreditasi B dari Kementerian Sosial.

Kanit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polres Jakarta Timur, AKP Endang Sri Lestari datang ke lokasi usai menerima laporan. ’’Kami sudah cek, tidak ada praktik jual beli bayi,’’ paparnya. Pihaknya akan bekerja sama dengan tim IT Polda Metro Jaya untuk mengungkap siapa pembuat akun tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga