30 Lokal Rampung

Rumah Hunian Sementara - bandung ekspres
LIHAT KONDISI: Kepala Pelaksana Harian BPBD tengah memantau pembangunan hunian sementara di Rawabogo. Dari 51 unit, rencana, baru 30 yang rampung.

SOREANG – Rumah hunian sementara untuk para pengungsi pergeseran tanah di Rawabogo, Ciwidey, kini sudah mulai bisa ditempati, walaupun baru sebagian yang selesai. Karena belum selesai seluruhnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung akan menggunakan skala prioritas untuk warga yang pindah lebih awal.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung Marlan mengatakan, dari 51 lokal rumah hunian sementara tersebut, saat ini 30 lokal sudah jadi dan bisa ditempati warga. Untuk warga yang sudah bisa menempati hunian sementara, BPBD menggunakan skala prioritas. ’’Karena belum jadi semua, kita prioritaskan warga yang punya anak kecil atau sudah tua untuk nemempati rumah hunian sementara yang kini sudah jadi. Apalagi untuk 20 lokal rumah hunian sementara tempatnya yang kini ditempati tenda-tenda pengungsi,’’ katanya kepada Soreang Ekspres (Grup Bandung Ekspres) ketika ditemui dikantornya kemarin (23/2).

Menurut Marlan, untuk 21 lokal lagi ditargetkan akhir bulan Maret selesai. Walaupun cuaca menjadi kendala dalam pembuatan rumah hunian sementara itu. ’’Cuaca memang menjadi kendala. Untungnya 3 hari kebelakang cuaca bagus hingga pembuatan rumah hunian sementara bisa dimaksimalkan,’’ ujarnya.

Sementara itu terkait pergeseran tanah di daerah Cipelah, Rancabali, BPBD Kabupaten Bandung. Karena belum ada kajian geologi, BPBD belum menentukan status pergeseran tanah tersebut. ’’Surat pengajuannya sudah kita serahkan ke badan geologi. Tapi saat ini belum ada kajiannya,’’ terang Marlan.

Menurut Marlan, dengan kajian geologi tersebut, pihaknya bisa mengetahui sejauh mana kerentanan tanah di daerah tersebut. Kalaupun membahayakan, bisa saja seperti halnya di Rawabogo warganya direlokasi. ’’Kalau sudah ada kajian, kita bisa mengetahui kerentanan hingga bisa menerapkan status tanggap darurat bencana atau tidak,’’ jelasnya.

Sementara itu, pergerakan tanah di Cipelah terjadi sejak 2013. ’’Diperkirakan tanah di Desa Cipelah memang labil. Di dekat rumah warga juga ada air terjun dan aliran airnya tidak jelas. Kalau kata warga memang ada rongga di bawah tanah untuk aliran air,’’ tuturnya.

Dari data yang dimiliki BPBD, akibat pergeseran tanah di Kampung Lemahneundeut, Giriluyu dan Cisabuk ada sebanyak 210 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 702 jiwa yang rumahnya rusak. Selain rumah, di wilayah tersebut juga terdapat satu sekolah, satu mesjid dan jalan yang mengalami pergerakan tanah. Sementara di Kampung Pasirmuncang wilayah yang terkena pergerakan tanah berada di RT 04/RW 04 ada 9 rumah yang dihuni 40 jiwa dan satu tanggul seluas 70 meter terancam jebol.

’’Untuk di Kampung Babakan Banjaran, pergeseran tanah mengancam 15 rumah yang dihuni sebanyak 60 jiwa dan di Gunung Leutik mengancam 7 rumah terancam, 32 jiwa,’’ tuturnya. (mg15/far)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *