oleh

Dishub-Organda Sepakat 10 Persen

Belum Banyak Sopir Terima Surat Edaran

SOREANG – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung, telah melakukan pertemuan dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan para koordinator sopir angkot, pasca penurunan BBM Senin (19/1).

Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa tarif angkot di Kabupaten Bandung telah disepakati turun 10 persen, dari tarif dasar dan mulai berlaku kemarin (20/1). Hal tersebut diungkapkan oleh Kadishub Kabupaten Bandung Tedi Kusdiana. ’’Turunnya 10 persen, kalau dirupiahkan bervariasi karena tarif dasar angkot kan beda-beda tergantung jarak,’’ katanya kepada wartawan.

Untuk memberlakukan penurunan tarif angkot ini, pihaknya sudah menyebarkan surat edaran. ’’Untuk penurunan tarif ini kan harus di SK-kan dan disahkan Bupati Bandung,tapi sambil menunggu SK kita bikin surat edaran saja dulu,’’ ujarnya.

Ketua Harian Organda Kabupaten Bandung Aloy Suryana, membenarkan pihaknya sudah melakukan rapat untuk penentuan tarif baru angkutan umum, dan kesepakatannya semua tarif angkot akan rurun 10 persen dari tarif dasar. ’’Penurunannya 10 persen dan kalau dirupiahkan sekitar Rp 500,’’ tuturnya.

Meski ada penurunan tarif sekitar Rp 500, menurutnya di lapangan biasanya ada penyesuaian sendiri dari para sopir angkutan. Dia menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar, asalkan tidak memberatkan penumpang. ’’Saya selalu ingatkan agar kalau ada penyesuaian tarif jangan memberatkankan penumpang,’’ ucapnya.

Dia juga memastikan para sopir menyetujui penurunan tarif angkot tersebut.

Seorang sopir angkutan kota jurusan Soreang–Banjaran Iyan, 39, mengatakan bahwa sampai saat ini dirinya belum menerima surat edaran mengenai penurunan tarif angkutan dari Dishub. ’’Biasanya Organda yang membagikan kepada tiap sopir, tapi sekarang belum ada,’’ terangnya.

Kendati demikian, tarif angkot sendiri sudah dia turunkan sejak Senin (19/1) lalu karena penumpang langsung berinisiatif menurunkannya sendiri. ’’Kebanyakan menurunkan sendiri, tapi ada juga beberapa penumpang yang masih memberi ongkos seperti biasa,’’ tambahnya.

Tarif angkot jurusan Soreang–Banjaran sebelumnya adalah Rp 5.000 dan sekarang berubah menjadi Rp 4.000. Sebenarnya para sopir angkot merasa sangat kerugian apabila tarif angkutan kembali seperti harga semula seperti sebelum kenaikan BBM. Pasalnya, harga premiumnya sendiri tetap naik Rp 200/liter. ’’Ya disebut turun kan gara-gara kemarin harganya sempat naik tinggi, padahal kalaupun sekarang harganya Rp 6.700, berarti tetap saja naik Rp 200/ liternya.Kalau dihitung-hitung kita tetap rugi,’’ akunya.

Dikatakan rugi karena saat ini sangat jarang masyarakat yang naik angkot. Sasaran mereka kebanyakan para pelajar saja, apalagi biaya pemeliharaan termasuk harga onderdil masih belum turun. ’’Kalau uang setoran sih terpenuhi, tapi buat kitanya nggak ada. Apalagi sembako masih tinggi harganya, bisa berantem tiap hari sama istri,’’ kata sopir lain Yayan, yang juga menjadi sopir angkot di jurusan yang sama.

Para sopir tersebut hanya berharap ketegasan pemerintah mengenai keseimbangan harga dipasaran, baik harga BBM ataupun harga kebutuhan pokok.

Senada dengan Iyan, Zulfy, 22), sopir angkot jurusan Soreang-Kebon Kalapa mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada pemberitahuan apapun soal penurunan. ’’Belum ada informasi, surat edaran juga belum ada,’’ imbuhnya.

Tarif angkot jurusan ini sudah turun Rp 2.000, yang tadinya Rp 9.000 sekarang menjadi Rp 7.000. ’’Tapi kalau penumpang yang baik ada juga yang ngasih Rp 8.000, jadi gimana orangnya aja,’’ tambahnya.

Dia dan beberapa sopir angkot yang lain mengaku bingung dengan ketidak pastian harga premium, karena jadi menyulitkan mereka. Sementara tidak semua penumpang mengerti situasi. Terkadang mereka harus bersitegang karena urusan ongkos, namun demikian pada akhirnya semua kembali kepada kesadaran semua pihak. (mg15/far)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga