Minta Pengusaha Respek Pada Citarum

78
HUMAS PEMPROV FOR JABAR EKSPRES
KONDISI DI HULU: Jajaran Kodam III/Siliwangi, bersama Bupati Kabupaten Bandung melakukan peninjauan sekaligus memetakan titik-titik lahan kritis akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan.

BANDUNG – Kodam III Siliwangi bersama Tahir Foundation menggandeng para pengusaha di Bandung dan Jakarta sebagai upaya tindak lanjut penanganan permasalahan sungai Citarum.

Kapendam III Siliwangi, ARH MD Aryanto memaparkan, acara yang dimotori Tahir Foundation sebagai pimpinan pengusaha pakaian dan manufaktur tekstil tersebut dimaksudkan untuk memberi penyadaran kepada para pengusaha terkait dampak dari perusahaan tekstil terhadap sungai Citarum.

”Diharapkan dari kumpulnya seratus pengusaha ini memberikan efek pada yang lain, menginformasikan bahwa sudah semakin parahnya Citarum. Bisa jadi di antara para pengusaha tersebut menyebabkan limbah,” kata Aryanto di Aula Makodam III Siliwangi kemarin (12/01).

Dikatakan Aryanto, adanya forum grup diskusi tersebut memang cukup terbukti memberikan penyadaran kepada para pengusaha. Hal tersebut dibuktikan dari kesadaran para pengusaha yang hadir dan mengumpulkan dana untuk penanganan sungai Citarum.

”Mereka menyiapkan dana dari Tahir Foundation sen­diri dengan beberapa pengu­saha sebesar Rp 20 miliar untuk Citarum,” urainya.

Meski begitu, Aryanto menuturkan, dana yang diberikan para pengusaha tersebut tidak begitu saja diterima Pangdam III Siliwangi. Sebab, kata dia, Pangdam menginginkan dana tersebut digunakan un­tuk pembentukan suatu yayasan agar pengalokasian­nya lebih transparan.

Ditemui di tempat terpisah, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mengapresiasi pemberian anggaran atau dana dari Tahir Foundation. Menurutnya, akan lebih baik jika semua pihak mampu be­kerjasama dalam penanganan masalah Citarum.

”Saya kira sangat bagus ya, dan kemudian dana tersebut digunakan dalam kegiatan Citarum Harum Bestari yang terpadu itu,” ujar Aher sa­paan Ahmad Heryawan.

Dikatakan dia, siapapun dan berapapun besaran dana yang diberikan dalam membantu penanganan Citarum tersebut tetap harus mendapat apre­siasi. Sebab, dirinya menilai bukan seberapa besar orang atau lembaga tersebut mem­beri bantuan, tetapi tujuan yang harus dilihat dapat membantu.

”Seberapa pun besar dan dari siapapun perannya, saya harus hitung besar. Tentu bi­ayanya triliunan ya, tapi kalau ratusan orang seperti Tahir mantap kan,” jelasnya.

Sementara itu, Indonesia mendapat gelontoran dana sebesar Rp 200 triliun dari Asian Development Bank (ADB). Dana itu akan diguna­kan untuk merevitalisasi sungai Citarum yang kondisi­nya sudah semakin parah.

”Selama dua tahun kita da­pat pinjaman hampir Rp 200 triliun,” kata Menteri Koordi­nator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan di kantornya, Jakarta, Kamis (11/1) malam.

Sayangnya, pinjaman dana dari ADB belum diterima oleh Indonesia. Sebab, program revitalisasi sungai Citarum hingga saat ini belum berjalan. ”Belum kita terima dananya. Pinjaman sudah sejak 2015 diberikan, tapi karena nggak jalan-jalan programnya jadi belum cair,” tuturnya.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya bersama lembaga dan sejumlah kementerian terus melakukan pembahasan terkait road map revitalisasi Sungai Citarum. Menurutnya, saat ini kondisi sungai yang berada di Jawa Barat itu sudah sangat parah.

”Kemarin kita upgrade lagi karena rupanya ADB kasih bantuan untuk per­baikan Citarum karena lingkungan di sana sudah sangat parah,” tandasnya. (mg1/ce1/hap/JPC/rie)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.